Kamis, 22 Desember 2011

Solidaritas Punk Sul-Sel di 15 kilometer untuk pelanggaran HAM di Indonesia




Aksi solidaritas Punk Sul-Sel untuk pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dimulai dari berkumpul dan membahas semua persiapan untuk turun langsung kejalan pada tanggal 19 desember 2011 kemarin di ex-Harapan Baru Makassar. Lebih dari 50 orang teman-teman yang datang dari luar daerah ikut berpartisipasi dalam pembahasan aksi damai tersebut. Mulai dari sore jam 4 hingga sekitar jam 6 lewat, semua sepakat dengan yang telah diperbincangkan, jika ini aksi damai, bukan aksi menuntut, bukan aksi anarkis model mahasiswa, kita turun kejalan untuk memberitahukan ke masyarakat jika diluar sana sudah terlalu banyak pelanggaran HAM yang terjadi dan dilakukan oleh oknum berseragam, oknum beragama, aparat dan pelaku bisnis besar serta pemilik saham dan modal, sekali lagi bukan aksi anarkis. Dan yang kita sepakati juga tidak ada organisasi lain diluar komunitas Punk (UG Sul-Sel.red).





Semuanya terorganisir tanpa ketua, semuanya berjalan lancar tanpa adanya pihak yang mengatasnamakan komunitas ini itu. Dan akhirnya semuanya sepakat untuk turun kejalan pada hari rabu tanggal 21 desember 2011 kemarin. Sekitar jam 12 siang gedung ex-Harapan Baru sudah mulai di penuhi para punkers dari Makassar maupun dari luar kota Makassar. Ada yang berjalan kaki, mengendarai motor, angkot dan menumpang di truk, sebuah fenomena yang membanggakan kita semua, kalau kita bisa dan kita tidak kalah hanya karena kita “beda”. Hingga sekitar jam 2 siang, dimana kurang lebih 300 pasang mata telah siap melakukan aksi solidaritas untuk semua pelanggaran HAM di Indonesia. Rute yang di sepakati dengan berjalan kaki dari ex-Harapan Baru – Flyover (sebar selebaran) – Benteng Rotterdam (life music, tetrikal dan baca puisi), semuanya aman dan kami juga berusaha untuk tidak mengganggu pengguna jalan lainnya yang sedang melakukan aktifitasnya. Beberapa kali singgah untuk berteduh dan istirahat sejenak, karena panas matahari yang lumayan menguras tenaga tapi tidak menguras semangat.










Hingga pada pukul 16.30 kita semua akhirnya tiba di titik ke-2, Flyover. Dan tiba-tiba saja saya merasa aneh, aneh karena yang kita bahas kemarin tidak sesuai yang kita jalankan. Ada yang berorasi menuntut ini itu, hingga memaki sepenuh hati. Kita punk atau mahasiswa sih? Kan sudah di bilang waktu membahas aksi ini, “kita jangan aksi kayak mahasiswa”, kok sampai ada yang orasi menuntut dan memaki di bawah Flyover? Sebenarnya disitu kita cuma singgah untuk menyebar selebaran kepada masyarakat, kalau diluar sana banyak pelanggaran HAM yang terjadi, yang terexpose dan yang sengaja di buramkan dan di hilangkan oleh segelintir oknum dan media mainstream. Percuma dong selebaran itu ada. Yang lebih anehnya lagi, sudah jelas-jelas yang kita bicarakan sebelum turun kejalan adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia, bukan cuman Pelanggaran Hak Asasi Punk. Eh tetap saja tidak sesuai konsep awal. Dan yang lebih ngerinya lagi, ada beberapa yang memaki-maki media mainstream, parahnya lagi, mereka menganggap jika punk sudah tunduk dan bekerja sama dengan media mainstream karena tidak berbuat apa-apa saat wartawan sibuk meliput. Dan lebih parah satu dari yang memaki media mainstream itu meminta maaf kepada wartawan yang sensitif, saya masih ingat orangnya dan masih hafal apa yang ia katakan pada wartawan “sorry bos hehe kita ini sama-sama jaki pelaku media” , what ur think? Fuck off!
Setelah sempat brifing dadakan, akhirnya kami melanjutkan jalan kaki menuju benteng Rotterdam. Dengan semangat yang full dan tenaga yang mulai terkuras. Tapi itu bukan masalah, kebersamaan dan rasa persaudaraanlah yang membawa kami hingga melanjutkan apa yang telah kita sepakati bersama untuk solidaritas pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di Indonesia dan Makassar tentunya.

Cuma ada yang lucu saat saya berjalan dibarisan belakang, ada seorang cowok dan dua orang cewek yang berbincang tepat didepan saya. Si cowok berkata seperti ini pada kedua cewek tersebut “anak pang not det ini semua di’, nda ada anak endang sokamti” dan cewekpun membalasnya dengan santai “io di’”. Akhirnya saya merasa lumayan segar, karena ada lelucon yang sangat primitif. Kalau kalian tidak tahu apa yang kalian jalankan, ada bagusnya jangan memakai attitude Punk, kasihan teman-teman saya yang selalu di cap bodoh dengan orang-orang yang bersekolah tinggi. 




Akhirnya kami melanjutkan perjalan sejauh 15 kilo meter, tapi itu bukan seberapa dibanding saudara saudari kami yang hak hidupnya di telanjangi, di injak-injak serta di anggap binatang oleh para pelaku bisnis, korporasi , pemilik modal, aparat serta petinggi Negara.

Sembari berjalan, ada beberapa dari kami yang sambil bernyanyi tentang bobroknya aparat dan hukum di Indonesia, ada yang membagi selebaran dan ada yang protes menggunakan pilox! Tetap kami berusaha untuk tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.

Sempat istrahat beberapa menit di samping karebosi, tepatnya di jalan R.A Kartini. Dan kembali melanjutkan hingga akhirnya sampai di titik tujuan, yaitu benteng Rotterdam di jalan penghibur, Makassar.



Ada yang langsung mencari tempat untuk bersandar, duduk untuk beristrahat lagi, ada juga yang mempersiapkan acara selanjutnya seperti membahas pelanggaran HAM di Indonesia, Teatrikal, music dan baca puisi. Hingga atas saran kawan kami, Yaya, akhirnya kami membuat lingkaran di depan benteng Rotterdam tanpa mengganggu yang ingin keluar masuk di dalam benteng tersebut. Dan yang terjadi diawal pembahas beda tipis dengan yang terjadi dibawah Flyover. Sudahlah, kita semua satu tujuan hanya saja cara kita masih berbeda. setelah beberapa kawan kita yang melontarkan amarah untuk pelanggaran HAM di Indonesia, langsung dilanjut baca puisi, orasi, musik, teatrikal yang mempertunjukkan betapa bodohnya hukum dalam menangani kasus HAM di Indonesia. Jadi jangan salahkan kami jika, kemarin, hari ini, esok dan selamanya kami akan tetap melawan untuk merebut hak kami yang telah tercuri oleh Negara kami sendiri. Akhirnya kawan kami, Aslam, menutup acara dengan membabi buta semua siklus parade Aparat, Korporasi, Agama dan Negara yang mengintimidasi rakyat kecil, yang menginjak-injak hak hidup orang lain, yang mencari keuntungan dari rakyat biasa, dan yang mengklaim dirinya pemimpin bumi. Kami tidak sedikit dan kami sangat berbahaya!
Terima kasih buat semua teman dari luar kota Makassar, dari bone, palopo, sidrap, maros, gowa dan dari manapun asalmu, kita satu maka kita kuat, rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita!

KEBEBASAN HAK ASASI MANUSIA DI ATAS SEGALA-GALANYA DIBUMI INI…!!!

Kamis, 01 Desember 2011

"Ngawur" itu Kreatif

Kali ini mungkin terdengar seperti “curhat”. Tapi menurut saya, semua orang yang menulis itu juga curhat. Yah namanya juga “curahan hati”, tergantung bagaimana caranya kalian melakukannya. Kebanyakan mencari teman atau seseorang yang bisa diajak untuk saling berbagi, atau hanya melepas keluh kesah. Ada juga yang mulumpahkannya dengan cara memaki, teriak atau bernyanyi. Dan tidak sedikit yang menulis.

Saya selalu berfikir jikalau semua yang saya lihat, dengar dan rasakan adalah sebuah bentuk wujud yang serupa tapi tak sama. Hmm… saya seperti ngigau? Sudahlah. Yang saya lihat belum tentu bisa saya dengar, begitupula yang saya dengar belum tentu bisa saya rasakan. Sebuah wujud yang “serupa tapi tak sama”.
Kita dilahirkan lalu dimatikan dengan cara yang sama tidak masuk akalnya. Beberapa film yang selesai terdownload dan tertonton. Ada yang menikah, yang sarjana, yang kerja, yang tersesat, yang sesat, dan yang jatuh lalu bangun kemudian jatuh, bangun lagi, dan mati. Potongan tangan dan kakinya ditemukan beberapa hari kemudian tak jauh dari lokasi kejadian dalam koper yang berbeda. Anak itu mencintai ibunya tapi dimusuhi temannya. Kebanyakan polisi tidak bisa mempercayai apa yang telah ia lakukan setelah menembak kepala polisi yang lain, istrinya, anaknya, atau rentenir yang datang menagih. Teman saya selalu mengingatkan untuk tidak lagi menghisap rokok, tidak lama kamu akan sakit, sembuh, sakit, sembuh, lalu mati. Mahasiswa yang terkena panah saat tawuran dalam kampus mengalami pendarahan yang serius, tak ada ambulance yang berani masuk. Kamu menunggu saja disitu, jibril akan menjemputmu. Mahasiswi yang tengah sibuk mengurus skripsi mengalami kesulitan, dari judul, SK pembimbing hingga menyerahkan diri kepada sang dosen untuk disantap. Beberapa hari pun kehilangan kontrol terhadap akal sendiri, menyesal bukan jalan terbaik apalagi bunuh diri. Koruptor selalu bisa jadi bunglon, menempatkan diri pada situasi yang genting sekalipun adalah keahlian mereka, namun siapa sangka jika maut berkehendak lain. Nasib naas. Secerdas apapun dirimu kau hanyalah manusia yang tak luput dari kebodohan. Data tercecer, nama dan gambar wajah dimana-mana. Takut. Lalu Jantungan. Sanak sodarapun menangis. Beda dengan maling ayam, perampok bank atau teroris yang lebih tahan banting. Mereka memiliki keberanian yang lebih, menantang maut untuk memiliki apa yang mereka inginkan, sekalipun nyawa taruhannya. Kebanyakan melarikan diri saat tertangkap basah. Timah panas dalam tubuh. Bandar narkoba yang tertangkap, pemakai narkoba yang tabrakan, musisi yang ayan, pendeta yang terbakar setelah gerajanya dibakar oleh kelompok agamis radikal, pelaut yang tersapu ombak, petani yang sawahnya tak kunjung tumbuh akibat hujan derah kemudian hama menyerang dan anaknya butuh biaya sekolah kemudian istrinya yang terkena kanker rahim, selebriti mesum, tokoh agama yang cabul, SPBU yang meledak, dapur yang meledak akibat gas 3kg, rumah yang terbakar, tanah yang longsor, banjir bandang, gempa, tsunami, wabah penyakit, gedung rubuh, pesawat jatuh, kapal tenggelam…

Ini bukan cerita bagaimana saya, kau dan kalian akan meninggalkan rangkain berupa aksara. Meninggalkan sejuta warna dan menggantinya menjadi warna yang kembali dipilihkan. Ini juga bukan cerita dimana kita akan jatuh, sakit dan mati, atau bagaimana kita merasakan jatuh, sakit dan mati. Apa kau bisa merasakan mati? Intinya ini bukan cerita kematian.

Apa kau takut mati? Saya tidak ingin mati sebagai pahlawan, saya ingin mati sebagai penjahat super.

Sudah lumayan lama saya tidak menulis, saya cuma sedang iseng, karena penulis itu latihannya hanya menulis, jadi tidak ada salahnya jika saya ngawur! Tidak ada yang salahkan?

Tidak usah dipikirkan, apalagi kalian ingin menjawab. Dibawah santai saja. “hidup seperti diperkosa, jika kalian tidak mampu melawan, nikmati saja”

Sudahlah, saya semakin ngawur….

Selasa, 08 November 2011

R.I.P Indra Setiyo Utomo


Kita pernah tertawa, terluka, jatuh dan berdiri bersama dalam satu wadah mencurahkan emosi, dendam, cinta dan pemberontakan yang kau sebut The Hidrasi. Kau kan yang memilih nama itu? nama yang tak ada artinya sama sekali bagimu, bagiku dan bagi temanmu yang satu lagi. Tujuh tahun terlalu cepat terlewati, dan tak mungkin kau bisa melawan takdir.

Kita punya cerita dibalik hujan, didalam botol yang berkawan malam dan disetiap bait lagu yang tercipta olehmu, olehku dan oleh temanmu yang satu lagi. Hingga semuanya mulai berubah saat kau sibuk dengan papan skate-mu. Dan itu adalah attitude-mu.

Walaupun belakangan ini kita tak saling berbagi lagi, atau sudah saling memiliki wadah yang baru. Toh buktinya kita masih tetap saling mencari tahu satu sama lain. Terakhir kau menelvon seminggu lalu, saya lupa apa yang kau katakan, suaramu saat itu tidak jelas atau kau lagi dalam keadaan….? Entahlah...

Semua orang memang akan merasa sedih saat mengingat masa lalu. Mengenang masa lalu seakan memandang dari sebuah jendela kamar yang tertutup debu; kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita memandangnya. Kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita melihatnya.

Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah. Kita bertemu satu sama lain di bumi, saling menyapa dan berkelana. Bersama untuk sejenak, lalu kita saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tak masuk akalnya seperti ketika kita datang.

Sudahlah, apapun yang kutulis, kuingat dan kukenang tentangmu, itu semua tidak membuatmu bisa mengajakku lagi untuk nge-jam di studio. Tapi paling tidak aku bisa menjadikanmu “sejarah” bagi diriku sendiri!

Ayolah Indra, tersenyumlah untukku sedikit saja!



Ini terakhir kita main bersama 3 tahun lalu, dan terakhir mendengar dentuman stikmu yang asal-asalan, sok Travis sekali kamu! :P



Kau adalah salah satu teman terbaikku! Dan kecupan pertama dan terakhir di jidatmu, saat kau terkapar menjadi mayat di rumahmu di depan Ibumu. Miss You, Indra!

Minggu, 16 Oktober 2011

Six Month



Beberapa hari terakhir ini cahaya rembulan terlihat indah dengan langit gulita yang menggandeng bintang-bintang. Hanya sebentar bulir air dari atas sana membasahi bumi. Tempat kami bersama. Bercanda, tertawa, sedih, menangis dan bercanda hingga tertawa kembali. Seperti itulah cara kami menandai hari. Disini tak ada harapan, rumput di biarkan menjalar hingga ke ujung trotoar kota seberang, hijau basah lalu kuning mengering. Terbakar lalu terbang terbawa angin. Orang-orang sibuk mengurus tingkat kesejahtraannya, demi masa depan yang lebih baik. Orang-orang pusing memilih pakaian apa yang harus mereka gunakan untuk bertemu dengan sepotong jiwanya. Orang-orang sibuk mencari-cari potongan tubuhnya masing-masing.

Semua tempat telah penuh sesak, semua tempat telah penuh omong kosong. Tak ada yang dapat di percaya, bahkan diriku sendiri, yang menjalar hingga ke ujung trotoar kota seberang, kota yang hilang.

Aku tak butuh petunjuk apapun dan dari manapun, aku tak butuh siapapun dan berapapun itu untuk bisa bercanda lalu tertawa hingga mampu menandai hari. Aku adalah rumput yang tak kenal kata kalah dari sisi jalan manapun didunia ini. Hingga matahari membakar mata hati, aku tidak akan menguning di antara semak belukar.

Malam ini adalah enam bulan yang di paksa terbakar dan malam ini adalah “kekalahan terbaik”.

-jika berbohong itu indah, maka kejujuran di atas apapun harus di lenyapkan-

Minggu, 18 September 2011

Sore menanti ajal...

Sore melipur lara, sore yang marah…

Kipas angin berkecepatan maksimal. Tiga bungkus rokok, dua yang kosong satunya terisi setengah. Gelas kaca jumbo. Botol minuman satu liter. Headset yang baru terbeli. Dua lemari kayu besar, satu kecil dan satu lagi terbuat dari plastik. Kamar pecah. Panas.

Pintu terbuka seperempat.

“kau akan kalah! Hahaha”

“tambah 50 ribu?”

‘100 ribu!”

“oke”

Arena dari kardus berlantai karpet tua. Dua pahlawan dari kubu berbeda dan puluhan penonton. Berkumis lebat, sedang, dan baru bercukur. Tinggi. Hitam. Bau matahari. Knalpot resing lewat. Taji munusuk kepala lawan.

“pelan-pelan anjing!!”

Cecep yang kalah. Satu lagi yang mati. Kepala lebih dulu masuk kedalam karung. Di ikat lalu di buang di tempat sampah belakang rumah.

Kipas angin sudah sekarat, bagai leher terinjak truk. Asbak kaleng telah sesak puntung rokok. Bungkus yang berisi setengah kini jadi seperempat. Dan ada lagi yang terisi. Gelas kaca jumbo yang sedari tadi bening, kini berpendar menjadi merah gelap dan berembun. Srrupp. Segar.

Lelaki berkumis tebal, tegap, pekat dan bau matahari pulang menembus petang dengan senyum penuh semangat berserta rombongannya. Pahlawannya babak belur. Tapi ia membunuh. Menghasilkan dan tak sia-sia di rawat.

“ini untukmu”

“kok banyak begini?”

“sudah. Tidak usah banyak Tanya. Untung di kasi!”

“tapi ini dari mana?”

Pipi kanan membentuk telapak tangan berwarnah merah. Darah bercucuran. Bibir pecah. Lebam. Bulir air mengalir dari kedua bola mata perempuan yang ia kawini delapan bulan lalu. Istri ketiga.

“berhenti”

Perempuan kecil berkulit kuning langsat tertunduk. Telapak tangan kanan di pipi kiri. Menyembunyikan bekas luka. Namun ada yang mengintip keluar. Menatap sinis lelaki berkumis lebat yang duduk dikursi rotan yang berdenyit. Ingin menikam.

“kopi”

“kamu dengar”

“kopi… anjing!!”

Meja berkaca pecah. Asbak di ujung pintu, terbalik. Serpihan kaca menusuk telapak kaki dan hati. Tangis di dada. Tenggorokan bernanah. Garis-garis lurus berupa bukit meladak di ujung senja. Persetan delapan bulan lalu. Istri ketiga. Keempat dan seterusnya.

Satu lagi yang mati. Kepala lebih dulu masuk kedalam karung. Di ikat lalu di buang di tempat sampah belakang rumah.

Satu lagi yang mati. Dibalik besi karatan. Vonis jatuh. Penyesalan akhir cerita. Kepala terpisah. Di ikat lalu di buang di tempat sampah belakang rumah.

Ada lagi yang mati. Sore menanti ajal…


Sabtu, 17 September 2011

menelisik jarum di bibir pantai

Menelisik jarum di bibir pantai…



Rombongan camar telah mengarah kemari. Kami menyebutnya sunset telah kelabu dan petang pun mengiring langkah gadis kecil hingga disudut kamar yang tak teratur. Menatap ke langit kamar yang menembus langit gulita dari sela-sela lubang yang tak beratur pula.

Deburan ombak di halaman rumah yang beradu dengan suara kresek yang masih lumayan jelas dari tape tua berwarna hitam.

“la turung bosi ji pale’, ri ta’giling na alloa….”

Yeni dengan mata terpejam dan pendengaran yang tajam memalingkan tubuh ringkihnya kearah jam weaker yang bergambar lumba-lumba berharap suatu saat nanti bisa berteman dengan seekor mamalia laut yang bersahabat itu dengan dirinya.

Di pulau kecil yang penghuninya tak lebih dari 25 kepala keluarga ini tak ada satupun yang ingin mendekati yeni, selain ayahnya yang sudah tua dan batuk darah, dan ibunya yang mengalami gangguan jiwa karena kejadian 3 bulan lalu saat 2 anaknya ikut tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi. Tertelan laut. Dingin, gelap dan didasar sana sudah pasti basah.

Ibunya yang di pasung di ruang tengah terkadang teriak memanggil anaknya, mengutuk laut dan memaki siapa saja yang melintas depan rumahnya. Sedangkan yeni yang menderita penyakit kulit di sekitar wajah, tangan dan pundaknya hanya berharap datang seekor lumba-lumba yang menemaninya mencari kedua kakaknya didasar laut.

Rombongan camar telah melewati pulau ini, menuju laut. Dan yeni selalu berdoa untuk cama-camar itu, semoga mereka tidak tenggelam dengan hasil tangkapannya ditengah sana.

Tak ada tempat lain selain di depan rumah yang berhadapan bibir laut tempat yeni menikmati hidup.ia tidak berfikir untuk bisa sembuh dari penyakitnya, ia hanya meminta pada penguasa laut untuk mengembalikan kedua kakaknya dan perahu plastiknya. Perahu plastik yang dibuatkan olek kakaknya saat genap berusia 7 tahun.

Matanya mengarah ke laut, ibunya teriak tak jelas dan ayahnya. Yeni selalu menganggap ayah seekor lumba-lumba yang setia menemani ibunya yang sedang sakit. Selalu mengajak yeni berbicara walaupun yeni tak membalasnya dengan kata-kata hanya gerakan tubuh atau anggukan kepala, ayahnya tetap menjadi seekor lumba-lumba.

Ia tak berpendar, kakinya tenggelam kedalam pasir coklat, wajahnya memucat namun bibirnya tersenyum. Ia melihat segerombolan lumba-lumba melompat-lompat di tengah laut, seperti melintas dari arah timur ke barat. Namun ada dua ekor lumba-lumba yang berwarna coklat kepucatan mendekati yeni. Lumba-lumba itu seakan berbicara pada yeni, dan yeni seperti mengerti bahasa lumba-lumba itu.

“kesini yeni, kita bermain bersama”

“ia, tapi kita tunggu camar-camar lewat dan ajak juga bermain”

“camar-camar itu tidak akan lewat, ia telah bermain”

“tapi…”

“kesinilah yeni, kita bermain kapal-kapalan”

Yeni sangat senang bisa bermain kapal-kapalan dengan kedua lumba-lumba coklat pucat. Matanya yang kegirangan seakan telah menemukan apa yang sebenarnya ia cari. Dan puluhan tetangga yeni menyusuri laut, ada yang bernang, menyelam dan ayahnya yang tak kuasa menahan tangis.

Hingga tengah malam, tak ada hasil. Semuanya kembali kerumah masing-masing. Ayahnya mengambil boneka lumba-lumba yang ada di kamar yeni lalu mengikatnya di pinggulnya.

“bu!”

hanya itu yang ia katakan pada istrinya yang diam membisu, lalu menggendongnya sekuat tenaga dan berjalan kearah laut sembari berbisik di telinga istrinya.

“kita akan berkumpul bersama anak-anak kita lagi, bu!”

Camar pun telah berpulang….

Kamis, 08 September 2011

Jika “Newsletter” Haram Bagimu

Saya tidak menyalahkanmu jika “newsletter” haram bagimu, mungkin isi kepalamu sudah penuh sesak akan “miskin pemahaman” dan “dangkal logika”. Sejak parameter non-mainstream kau ukur dengan seberapa cepat kau modifikasi sepeda ala George King Barris.



Mengeluarkan statement itu mudah, bagai membalikkan telapak tangan. Namun mempertanggung jawabkannya bagai menelan Himalaya dalam hitungan detik! Kau, saya dan mereka sama inginnya terlihat paling hebat, paling jenius atau paling idiot sekalipun dalam ber-retorika menyambut liur yang telah mengering dan berkarat beberapa tahun lalu, beberapa bulan lalu, beberapa hari lalu atau yang parahnya beberapa jam lalu. Oh shit!



Meng-interpretasikan diri dengan pemahaman leninshit, marxshit atau holyshit sekalipun saya tidak perduli. Mengambil jalur “kekiri-kirian”, “kekanan-kanangan” atau “kekanak-kanakan” sekalipun saya tidak perduli tentang hidupmu yang melacurkan diri pada hasrat pembuluh terluar, ambisi pinggiran, bla bla bla…



Newsletter, Zine atau Selebaran yang biasa kita temui di tempat-tempat kolektif, di rumah-rumah info atau dari tangan ke tangan adalah satu bentuk perlawanan terhadap media mainstream yang berfikir seribu kali untuk memuat band-band bawah tanah yang tak layak jual baginya, yang tak layak di komsumsi baginya, yang tak layak di bicarakan baginya!

Maka dari itu, mereka yang terlebih dulu ada di dunia kolektif membuat sebuah wadah perlawanan terhadap media mainstream yang berwujud Newsletter, Zine atau Selebaran yang kau haramkan bagimu idiot pengendara sepeda ala George King Barris!



Yang jadi pertanyaan, seberapa luas “media” itu dalam idiologi dan idealisme-mu??



Hanya sebatas tulisan yang jumlah paragraf-nya tak mampu kau hitung dengan jari-jemari? media adalah sumber informasi, sebagai informasi sudah pasti membuat kita tahu apa yang belum kita ketahui sebelumnya. Yang membedakan media mainstream dan non-mainstream adalah bukan cuma di pabriknya, tapi cara produksinya juga. Media non-mainstream juga terbit suka-suka alias tidak berkala seperti media mainstream lakukan, berkala. tuntutan laku tidak laku bukan masalah bagi media non-mainstream dan ada juga media non-mainstream yang di gratiskan, tidak memiliki hak cipta, kalian ingin copy sebanyak yang kalian inginkan pun tidak jadi masalah. Atau kata teman ku “kalian mau sebut itu punyamu pun tidak jadi masalah”!



Tunggu, tunggu… hp itu apa? Facebook itu apa? Browsing itu apa? Ohh shit saya baru tahu kalo kalian, kalian, kalian yang anti-media dalam labirin ter-fatal pun masih meng-komsumsi media yang ingin kalian bumi hanguskan rata dengan tanah! Bagai bunglon yang menjilati isi dunia, melebihi psk yang mejajakan tubuhnya pada lelaki hidung belang, melampaui busuknya judas sekalipun! Cuihhh…!!!



Hp dengan merk apapun, facebook dengan pertemanan berapa pun dan browing tentang apapun, kalian yang meng-haramkan “Newsletter” adalah ambigu dengan tetek bengek sok pahlawan komunitas dengan kapasitas tai kucing yang berselubung dari rentetan jilat menjilat selangkangan mainstream!



“Kami memang akan kalah besok. Disingkirkan lusa. Dilenyapkan minggu depan. Terpuruk berulang setiap tahun. Dimakan habis kompromi di penghujung hari. Namun bukan hari ini. Mungkin belum, mungkin tak akan pernah. Yang pasti bukan hari ini. Kami masih punya hari ini untuk dihabiskan, sampai waktunya kami benar-benar lenyap.”



-Selamat datang di duniaku, wahai pengendara sepeda ala George King Barris-