Senin, 27 Agustus 2012

Renovasi 14 dan Berkaratnya Athena

Dan gelembung pun pecah berhamburan...

Membakar kesunyian dan kesepian jauh lebih baik daripada menghamburkan kenyataan.

Beberapa bulan lalu, Athena menyerah terhadap cerita yang belum sempat tertulis diantara rumput kering yang terlupakan. Di antara cacing tanah dan tikus tanah yang tak lagi mempermasalahkan mitos hujan dan matahari. Di antara kilometer empat yang menjadi tumpuan kaki-kaki menuju tempat pertemuan revolusi empat belas. Hingga berubah menjadi renovasi empat belas.

Tak ada angin. Apalagi ukuran badai. Lalu mengapa lidah-lidah langit mengeluarkan pecahan kaca yang tadinya berbentuk canda, tawa dan senang?.

Suara-suara itu pun bermunculan. Dari halaman novel. Riuhnya kekasih angin dipucuk kebingungan. Hingga kejarak sebelum 14.04 kilometer. Dimana Athena sekuat tenaga tak menganggap kekasih angin sebagai cerita yang pernah membuatnya tersenyum, tertawa dan meledakkan air mata.

Adakalanya logika harus dibakar. Cerita harus di semayamkan. Dan yang tersembunyi biarlah padam dengan sendirinya.

Untukmu yang "sok tahu", jangan pernah bercanda dengan tenggorokan bernanah.



Senin, 20 Agustus 2012

Itu Aku Dan Mainanku...

Pagi terjaga. Pukul delapan lima belas menit. Serviks mulai membuka dan mendatar. Harap cemas. Tangis pecah. Selamat datang malaikat kecilku.

Mata rembulan si kuning langsat. Menerawang dinding bersenandung malu-malu. Pemilik payudara baruku, Mulailah menghisapku. Hingga suatu saat botol berisi susu yang di beli ayahmu di ujung jalan kan bertukar. Ayah yang tak pandai merangkai kata untuk memanggilmu. Begitu pun aku, ibumu. Tak mungkin juga menunggumu dewasa dan membiarkanmu memilih nama sendiri, itu mengapa kami setuju pemberian nenekmu. Suciati. Hanya saja, ayahmu terbiasa memanggilmu "dede". Akupun terbiasa.

Senja padam menemui datarannya. Membiarkan rembulan melakukan tugasnya. Mantan kekasih tak menampakkan lelahnya. Kau tahu itu. Waktu semakin menua. Menuai retasan demi retasan kebahagiaan. Tak ada retakan. Semoga tak ada. Dalam Doaku. Hingga kau terlihat melangit. Menarik tangan kami. Mengajak melukis langit. Usiamu kini tiga tahun. Memilih menunggani ayahmu daripada menghancurkan mainan barumu.


Aku melihat Michaelangelo Buonarroti yang menumpahkan cat minyak di atas kain kanvas tanpa ragu hingga Fresko di langit-langit Sistine's Chapel tercipta. Seperti itulah kau membuat kami takjub akan kebahagiaan baru. Kebahagiaan yang tak ternilai dengan angka. Hingga benturan itu membuatmu terlelap dalam pangkuanku. Aku pun terlelap disamping ayahmu yang juga terlelap.

"yang sabar yah sayang, tuhan mungkin belum memberikan kita". sambil menggenggam kedua tanganku, mengecup keningku. Aku pun sebenarnya belum memikirkan hal itu. Biarlah waktu yang memberitahukan kami. "iya sayang". Sambil tersenyum, aku pun membalas kecupan di kening suamiku.

Di beranda, mataku melirik seseorang menempel seperti lintah di balik pagar. Sepertinya aku salah. Ia lebih dari seorang. Namun sekejap lenyap tertelan cahaya lampu taman. Sepertinya memang aku dan penglihatanku yang salah. Sudahlah. Sembilan tiga puluh menit. Suara pagar terbuka menandakan suamiku telah tiba. Menemuiku dengan wajah lumayan pucat. Ia juga bercerita tentang "lintah" yang menempel di pagar. lalu lenyap. "ah kamu terlalu lelah sayang, seharian bekerja. sana bersihkan badanmu. bau". "iya yah, ini karena pak rusdi yang pulang kampung. jadinya lembur untuk selesaikan data tender besok lusa". "yah sudah mandi sana, makan malam sudah menunggu dari tadi".

Pagi yang seperti biasa. Embun yang berpendar di lantai beranda. Berhamburan. Dan wajah itu ada setiap pagi. Menoleh begitu saja. Lalu pergi. Hampir setiap pagi. Begitu pun saat senja mulai redup. Seperti ada yang bermain. Di halaman rumah. Di beranda.

Sembari menunggu adikku yang ingin menemaniku malam ini karena suamiku lagi tugas di luar kota, aku membuatkan puding kesukaannya. Pukul dua satu lewat sekian suara pintu pagar terbuka. Ia telat. Puding pun telah siap di meja dari tadi.

"Motornya di parkir di garasi saja". Sahutku sembari tersenyum kepada adikku. Aku merasa lega karena sudah ada yang menemani. "ia kak...".

"Ini mainan siapa kak? Sudah hamil yah? Kok beli mainan dulu sih?"
"Kamu dapat dari mana?"
"Di garasi"

Aku kembali teringat sepasang suami istri yang mencari anaknya sambil mengintip dalam garasi mobilku. Suara yang datar. Pandangan yang nanar. Si kecil siang itu. Tersenyum memandangku. Seketika aku menemukan diriku bersimbah darah dalam mobil yang mereka tumpangi.

Sabtu, 04 Agustus 2012

sakura bertukar tempat dengan darah

Merinduimu, sama seperti menanti musibah...

Ada lagi yang pecah. Retakannya meninggalkan cemas. Merah merana. Tampak terkelupas. Marah merona.

Ia memintaku untuk menemaninya merangkai cerita, menantang derita, dan melawan kejamnya sisi gelap kota setelah menjalani enam bulan kisah jarak jauh. Tangan kiri dan kananku sempat ragu pada lidahnya yang di tumbuhi sakura dan seruni pada musim semi. Jantungku berdetak tak kala harus meninggalkan sepetak sawah dan beberapa ternak, meninggalkan ibu dan ayah serta adik yang terbiasa di kursi roda, sejak kecil ia mengalami Poliomielitis

Jangan tanyakan tentang kota, aku membencinya. Ia memintaku menemaninya, si lidah yang di tumbuhi sakura dan seruni, maka aku juga membencinya, tak kala sakura dan seruni itu tampak gelap dan berlendir beberapa bulan belakangan ini. Menjijikkan.

Mereka beranggapan bahwa kota adalah deturasi surga, tempat istimewah yang di impikan kebanyakan gadis kampung sepertiku. Menilai dari kacamata rasional atau kacamata ritual super idiot tentang sebuah kenyamanan dan ketentraman berada diantara gedung-gedung pencakar langit, di antara gudang-gudang yang melahirkan polusi pemusnah langit. Menganggapku telah menjadi sosok konsumtif berlebihan, menamaiku luka desa dan yang parahnya, mereka menyamakanku dengan perempuan yang menghias tubuhnya dengan cinta murahan. Mereka, tetangga di kampung lupa bahwa manusia sama seperti cuaca, tak bisa di prediksi apalagi di kontrol.

Hanya beberapa bulan aku menikmati pelangi yang kami buat. Berseluncur di atasnya, bermandikan warna, merekah pada poros yang sejajar tentang mimpi yang selama ini ku impikan.

Aku membenci hidupku, aku membenci muntah itu, membenci tangan kasar itu, tangan yang membiasakan diri meremas dada dan menempar pipiku. Bulir mengalir. Ada lagi yang pecah. Lalu berdarah.

Aku baru tersadar berdiri sejak lama di depan pintu pesakitan setelah tahu vacum cleaner yang karatan telah berfungsi setelah 3 bulan lamanya bersemayam di dalam gudang belakang. Vacum cleaner itu menghisap pelangiku dan menyimpannya bersama debu. Menggantikannya dengan api. Dengan tangis dan darah.

Hampir setiap malam tangan kasar itu memaksa menyusup di balik baju dan celanaku. Mencari gundukan kembar yang tak pernah lagi ia pedulikan dengan cinta, dengan lembut dan sayang. Menaruhnya begitu saja. Menjadikannya khiasan tanpa perasaan. Membuat tubuhku bergetar, menahan rasa, marah dan dendam. Jika cinta sudah tidak peduli, maka rasa sakit dan darahlah sebagai gantinya.

Aroma alkohol itu menggauliku. Setiap saat. Setiap harta dan benda bertukar dengan kesenangan. Secara paksa. menjadikannya arena pelampiasan dimana cincin dijariku bertukar dengan kartu tak lengkap atau meja dan kursinya yang sudah di muntahi puluhan preman atau keberuntungan memang sudah habis tertimpah tubuh perempuan bergincu tebal dengan aroma Linn Young Papillon.

Setelah tujuh hari tausiah dirumah ini, aku pun memilih untuk pulang ke kampung. Tanpa pelangi. Tanpa sakura dan seruni. Tanpa cinci di jari manis. Balok kayu itu terkubur bersama dengan cerita si lidah yang di tumbuhi sakura dan seruni. Lelaki itu. Lelaki yang tangannya membuat ku bergetar menahan marah, darah dan terbakar, saat meniduriku secara paksa. Marah saat menggeledaku bak pencuri. Berdarah saat menghujaniku pukulan. Terbakar saat meniduriku dengan bau alkohol yang memaksa. Lelaki yang kematiannya seolah-olah gantung diri. Lelaki yang menamaiku istri selama tiga bulan setelah pernikahanku yang berusia sepuluh bulan. Maaf sayang.