Saya adalah seorang apatis terhadap sesuatu yang mungkin atau memang tidak menguntungkan bagi diriku. Paling tidak simbiosis mutualisme harus berdiri tegak dalam hidupku dan memang itulah yang terjadi. Apa yang kulakukan untuk orang lain harus punya timbal balik yang sepadam, dimana sistem telah menjadi rantai kehidupan yang mengcekik leherku hingga nyaris putus saat pagi hari tanpa sarapan, begitu pun di saat siang, dan malam hari. Bahkan saat kita tidur pun sistemlah yang menyanyikan Twinkel-Twinkel Little Star. Belum lagi akses internet yang membuatku wajib untuk mengupdate status biar kelihatan hidup sehidup-hidupnya, pakaian yang kugunakan pun harus sesuai dengan jamannya, mulai dari merek A hingga Z atau seberapa canggih layar sentuh dan tombol querty yang akan mengangkat status sosialku di dalam lingkungan sekitarku. Yah, seperti itulah sistem berjalan, kita dibuat menjadi sebuah nilai dari angka-angka yang fungsinya hanya sebagai nilai tukar saja. Kemajemukan ilusi.
Saya adalah seorang apatis, termasuk dalam pembahasan hingga keharusan berkontribusi terhadap pemilu yang di sebut 'hak suara'. Menjadi masyarakat beradab bukan hanya dengan jalan melanggengkan langkah-langkah korporasi meluruskan cita-citanya untuk mengeruk dan merampok apa yang bukan miliknya untuk kepentingannya semata. Ada hal yang membuatku kadang merasa mual ketika membuka beranda Facebook, ada puluhan akun yang melakukan ritual pemujaan terhadap jagoannya, ada pula yang melakukan Black Campaign sejenis sumpah serapah hingga perdebatan tanpa ujung. Atau ketakutan-ketakutan yang lahir jika Si Militerisme, karena di belakangnya ada ribuan fundies yang siap menjadikan negara ini menjadi 'suci'. Atau ketakutan bahwa kita menjadi budak militer? Di culik? Di lenyapkan? Hello, bukankah itu semua sudah terjadi dari bertahun-tahun lalu? Ayolah sayang, bukan itu yang membuatmu harus menjadi api kemudian padam oleh debu.
Saya adalah apatis pada ajang yang konon katanya paling bergensi bernama Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brazil, dimana 32 negara bertanding memperebutkan gelar juara 4 tahunan ini, dimana para kapitalis global berkumpul menyaksikan penggusuran, dimana riuh ratusan ribu penonton menikmati ceceran demi ceceran darah yang tumpah memperjuangkan haknya, dimana para gamblers bertaruh diatas tumpukan mayat yang tak mengerti kenapa mereka di singkirkan begitu saja hanya karena pembangunan stadion. Sepertinya Tuhan lebih apatis dariku. Sepertinya Tuhan lebih memihak kepada mereka yang memiliki kontrol penuh atas semua yang di inginkannya.
Saya adalah apatis untuk tidak menikmati sirup di siang hari pada bulan yang serentak di sucikan oleh korporasi yang mengatasnamakan ketaqwaan umat, dimana provider ponsel dan iklan rokok menjadi topeng raksasa berpayung agama untuk produk mereka, dimana Nabi, ayat suci, Tuhan dan setan menjadi komoditi di seluruh media, dimana para fundamentalis menjadikanmu haram karena warung makanmu buka di siang hari.
Saya yakin jika dari kecil setiap manusia diajari untuk 'memahami', dunia akan menjadi tempat yang 10 kali lebih baik dari hari ini. Dan tentunya tulisan sampah diatas itu tidak akan pernah ada, terlebih oleh diriku yang tak pernah berbuat apa-apa untuk hidupku apalagi untuk hidup orang lain, dan sekarang aku paham, betapa menyedihkannya menjadi apatis.
Minggu, 17 Agustus 2014
Selasa, 15 Juli 2014
Desember!
Aku berwujud ruang, pada dua belas bulan di kalender tiap tahun. Ruang yang berisi dua belas kursi goyang, masing-masing memiliki warna berbeda nan terang. Yang boleh terisi satu kursi saja sebagai bentuk hubungan. Yang satu pergi yang lain datang.
Aku berwujud ruang, pada Desember yang bergonta-ganti memainkan kedua belas kursi goyang. Semacam fregoli delusion, dimana kedua bola mataku bertanya pada kuping kiriku, apakah semua yang kutemui adalah sama? Tentu saja tidak atau tentu saja iya. Anggap saja dalam tubuhku tumbuh keraguan yang di paksa mendramatisirkan kenangan, sebuah kisah yang tak lekas redup hanya karena malam berganti siang, atau karena kalian memiliki angka yang sama, angka yang membuatku kembali menjadi skizofrenia tanpa harus mengiris pergelangan tanganku hingga berdarah.
Mereka bukan Desember manufaktur, mereka membalas sedemikian rupa dengan paruhnya yang tajam, hanya saja terkadang ada hitam di ujung kuku setelah menggaruk hatiku yang berlapis kertas minyak. Dan beberapa minggu belakangan ini, Desember yang tak kalah rumit, atau Desember yang mungkin tak terhipnotis oleh gombalan usus kambing yang lahir di antara rasi bintang kemudian membuat pelangi meledak di kepalaku seketika. Ini pagi, pukul tujuh membelah diri jadi dua, mataku meraung mencari langit, aku terhimpit tubuh sendiri. Jika kedatanganmu membuat jalanku menyeringai jadi rintangan dan awan adalah sekumpulan bara api yang membuat langitku memerah, mungkin yang tak sampai pada hatimu adalah debar-debarku, Desember!
Aku berwujud ruang, pada Desember yang bergonta-ganti memainkan kedua belas kursi goyang. Semacam fregoli delusion, dimana kedua bola mataku bertanya pada kuping kiriku, apakah semua yang kutemui adalah sama? Tentu saja tidak atau tentu saja iya. Anggap saja dalam tubuhku tumbuh keraguan yang di paksa mendramatisirkan kenangan, sebuah kisah yang tak lekas redup hanya karena malam berganti siang, atau karena kalian memiliki angka yang sama, angka yang membuatku kembali menjadi skizofrenia tanpa harus mengiris pergelangan tanganku hingga berdarah.
Mereka bukan Desember manufaktur, mereka membalas sedemikian rupa dengan paruhnya yang tajam, hanya saja terkadang ada hitam di ujung kuku setelah menggaruk hatiku yang berlapis kertas minyak. Dan beberapa minggu belakangan ini, Desember yang tak kalah rumit, atau Desember yang mungkin tak terhipnotis oleh gombalan usus kambing yang lahir di antara rasi bintang kemudian membuat pelangi meledak di kepalaku seketika. Ini pagi, pukul tujuh membelah diri jadi dua, mataku meraung mencari langit, aku terhimpit tubuh sendiri. Jika kedatanganmu membuat jalanku menyeringai jadi rintangan dan awan adalah sekumpulan bara api yang membuat langitku memerah, mungkin yang tak sampai pada hatimu adalah debar-debarku, Desember!
Kamis, 26 Juni 2014
Saudade...
Bukan tentang sesuatu yang di cat di atas kanvas atau diukir di atas batu yang kemudian kita menyebutnya seperti 'the Ghent Altarpiece' dan 'the Bruges Madonna and Child'. Ini juga bukan konvensi Jenewa atau menjadi warga Yahudi pada jaman Great War yang menantang Fuhrer, kita juga tidak menginginkan suara-suara letusan yang diciptakan nenek moyang atau hal-hal mulia dalam kitab Antaboga pada zaman Bahula yang di tulis pada daun lontar. Atau tentang menipisnya ozon, dan pekatnya karbon monoksida, yang menjadikan air polusi kita telah praktis mengubah bumi menjadi tempat yang cocok untuk kita.
Ternyata di dunia ini memang tak pernah ada yang sempurna, sayang. Ada sesuatu yang membuat sesuatu itu selalu terasa kurang. Mungkin karena kita diciptakan untuk selalu merasa tidak puas akan sesuatu yang kita miliki. Dan, jika saja cinta itu tak beralasan, bolehkah kita menamainya 'sempurna' sekalipun Ia tampak sederhana?
Aku punya ide, bagaimana kalau kita berhenti bercerita tentang basah kepada air atau berkisah tentang ribuan Torah yang di temukan dalam tambang. Anggap saja ini akan seperti Colombus dan suku Indian atau Pasukan Spanyol dan suku Inca. Kita hanya butuh suatu sikap tentang bagaimana cara pengaplikasian kisah yang belum menjadi kisah pada hari-hari esok, dimana sejumput tawa tak lekas dikenang, terlupakan kemudian terhina. Apa kau tahu, sayang? Beberapa hari ini namamu kutulis dengan huruf hijayyah menggunakan bulir hujan yang kudapati di dinding-dinding hidupku. Karena yang aku tahu, kau adalah gemercik keindahan dari kegelapan Baltik yang berkabut.
Ternyata di dunia ini memang tak pernah ada yang sempurna, sayang. Ada sesuatu yang membuat sesuatu itu selalu terasa kurang. Mungkin karena kita diciptakan untuk selalu merasa tidak puas akan sesuatu yang kita miliki. Dan, jika saja cinta itu tak beralasan, bolehkah kita menamainya 'sempurna' sekalipun Ia tampak sederhana?
Aku punya ide, bagaimana kalau kita berhenti bercerita tentang basah kepada air atau berkisah tentang ribuan Torah yang di temukan dalam tambang. Anggap saja ini akan seperti Colombus dan suku Indian atau Pasukan Spanyol dan suku Inca. Kita hanya butuh suatu sikap tentang bagaimana cara pengaplikasian kisah yang belum menjadi kisah pada hari-hari esok, dimana sejumput tawa tak lekas dikenang, terlupakan kemudian terhina. Apa kau tahu, sayang? Beberapa hari ini namamu kutulis dengan huruf hijayyah menggunakan bulir hujan yang kudapati di dinding-dinding hidupku. Karena yang aku tahu, kau adalah gemercik keindahan dari kegelapan Baltik yang berkabut.
Senin, 03 Maret 2014
No-Peace...
Serupa rak buku yang ditempati piring makan. Seumpama ada pernikahan, aku menyumbang anak. Anggap saja aku tuhan. Tapi aku tak berdoa. Tuhan juga demikian. Lalu mereka melihat tawa. Mendapati cemas. Terkadang sedih. Memelihara harta, tahta dan nama keluarga. Di balik tembok, tak ada yang terdengar, sekalipun kematian. Kain kafan maupun peti mati tak ada guna. Apa lagi upacara pembakaran. Koper sudah cukup. Kunci brangkas ada di saku kirinya.
Waktu itu, sabtu belum selesai. Kurang lima belas menit. Perempatan lorong kecil. Mereka menamai dirinya rasa cemburu. Pertemuan yang di landasi kesengajaan. Tak ada manusia melihat manusia. Sumbu terbakar. Gemercik api. Darah merah marah merona. Kematian selalu di tangisi. Anak manusia yang ditelanjangi gengsi.
Di tempat lain. Sabtu telah usai. Mencumbui modernitas kota. Membiarkan api membakar dalam dadaku. Tak ada hening. Aku tak perlu kopi. Tak butuh ganja. Mungkin juga tak butuh silahturahmi. Begitu pun buku. Membaca tidak membuatku bahagia. Tutup saja. Bakar jika perlu. Percuma, huruf-huruf tersusun untuk hidup lebih hidup hanya sampai di kepala saja. 'Jangan bicarakan apa yang kau pikirkan, tapi pikirkan apa yang kau bicarakan'.
Di sudut sana. Diantara bercak yang tak ingin menghilang. Akan selalu ada yang menggerutu tentang hidupnya yang tak lekas tertawa. Sesaat setelah bertemu kolega yang sama. Yang sama-sama membicarakan hasil rampasan.
Waktu itu, sabtu belum selesai. Kurang lima belas menit. Perempatan lorong kecil. Mereka menamai dirinya rasa cemburu. Pertemuan yang di landasi kesengajaan. Tak ada manusia melihat manusia. Sumbu terbakar. Gemercik api. Darah merah marah merona. Kematian selalu di tangisi. Anak manusia yang ditelanjangi gengsi.
Di tempat lain. Sabtu telah usai. Mencumbui modernitas kota. Membiarkan api membakar dalam dadaku. Tak ada hening. Aku tak perlu kopi. Tak butuh ganja. Mungkin juga tak butuh silahturahmi. Begitu pun buku. Membaca tidak membuatku bahagia. Tutup saja. Bakar jika perlu. Percuma, huruf-huruf tersusun untuk hidup lebih hidup hanya sampai di kepala saja. 'Jangan bicarakan apa yang kau pikirkan, tapi pikirkan apa yang kau bicarakan'.
Di sudut sana. Diantara bercak yang tak ingin menghilang. Akan selalu ada yang menggerutu tentang hidupnya yang tak lekas tertawa. Sesaat setelah bertemu kolega yang sama. Yang sama-sama membicarakan hasil rampasan.
Minggu, 26 Januari 2014
Eligio...
Seperti itulah desember akhir. Basah. Penuh genangan air. Dan kau tahu, aku hanya mencintaimu, tidak memintamu mencintaiku.
Ada sesuatu didalam tenggorokanku. Aku merasakannya. Seperti pesta akhir tahun. penuh kembang api. Suara terompet dimana-mana. Langit yang berwarna-warni. Jalan protokol menjadi pasar malam semalam. Aku merasakannya, tidak memilikinya.
Sebelum aku melihat kau membakar kembang api ditangan kananmu yang berwarna merah gelap, angin telah membawaku melihat diriku kebelakang. Jauh disana. Sebuah tempat dimana aku merasakan cinta serupa kembang api. Terbakar dengan cepat. Seketika menyembur kelangit-langit. Bola mataku tak ingin berkedip dipenuhi warna. Tak lama kemudian redup, pelan tapi pasti. Hanya sisa asap ditelan angin. Lalu gelap. Tak ada cahaya.
Hujan kerap sempurna. Meninggalkan genangan luka. Menyisakan ingatan yang seharusnya telah kering musim kemarau tahun lalu.
"Sudah berapa lama kita bersama?". Tanyanya.
"Sehari setelah pertemuan dikedai buku itu, tiga tahun lalu". Jawabku dengan ingatan.
"Dan bahkan kau belum mengenalku".
"Denga cara seperti itu kau menilaiku?". Kataku. "Kau lupa, jika ingatanku lebih tajam darimu? Kalimat sampah yang kau retaskan di telingaku!". Aku menahan nafas, berusaha lebih tenang dari laut yang tercemar limbah pabrik.
"Kau hanya mendengar menggunakan telinga, seharunya kau mengunyahnya mengunakan kepala dan hati".
Langit seketika berwarna-warni tepat pukul 00.00. Suara-suara ledakan itu tak akan habis beberapa hari kemudian. Jalan yang dibanjiri manusia. Bahkan aku berdiri didepan lelaki yang aku kenal empat bulan lalu. Seperti inikah pergantian tahun? Tanyaku pada diri sendiri. Sebelum kembang api terakhir tersulut api, ia menggengam tanganku dengan sorot mata yang tulus. Seperti sebuah penantian berencana. Senyumnya yang memesona, membuatku untuk tidak memejamkan mata saat itu.
"Jika aku membakar kembang api terakhir ini, itu setelah mendengar jawabanmu". katanya dengan lembut.
Aku berusaha membalas senyumnya dan tetap diam. Bukannya aku tak memiliki jawaban, hanya saja, aku tak suka mengulang satu kata untuk pertanyaan yang sama.
"Apa kau tak ingin kembang api ini ikut mewarnai langit?" Katanya sembari menggoyangkan tangan kananku.
"Aku hanya tak ingin melihat burung-burung itu mati esok pagi".
Sore itu di bangku yang sama. Aku melihat sosok yang membuatku bahagia. Lelaki yang kukenal selama dua tahun lebih. Tawanya yang renyah tak berubah setelah ia kembali dari rantau. Terkadang aku sangat merindukannya, membuatnya cemburu untuk mendengarnya berceloteh tentang logika. Aku tak sepenuhnya membutuhkan logika, karena aku tahu, yang membuat seseorang cemburu bukanlah logika, tetapi perasaan.
"Kenapa kau berpikiran bahwa aku mendiskripsikan kalimatmu tanpa menggunakan hati?". Balasku dengan nada sedikit kesal.
"Karena kau tak mendengar semuanya". Katanya.
"Itu sudah cukup untuk membuatku menjauh".
"Hanya itu saja?".
"Kalimat yang tak seharusnya kau katakan".
"Hanya karena kalimat kita terbakar?"
"Apa aku harus mengulangnya?". Suaraku meninggi.
"Seharunya kau sudah melupakannya". Jawabnya dengan nada harap.
"Setahun ini aku ingin senang-senang, karena setahun belakang ini saya terlalu memprioritaskanmu". Kataku mengulang kalimatnya beberapa bulan lalu. "Bahkan kau tak mengerti dengan kalimatmu sendiri".
Setelah sore itu, tak ada lagi tawa renyah yang terdengar. Bahkan kisah-kisah itu. Tentang kekasih angin yang membelai lembut pucuk pohon. Jejak tak terlihat sepanjang kilometer empat. Rumput yang mengering dihalaman 'Halo, Aku Di Dalam Novel'. Dan tentang Dewi Athena yang lahir dikepala Zeus. Entah bagaimana caranya, aku harus menguburnya bersama kisah-kisah yang lain. Yang membuat ususku terburai keluar menjadi pintalan laba-laba.
"Hanya karena burung-burung?" . Katanya. "Aku hanya ingin mendengar jawabanmu malam ini". Katanya dengan sorot mata penuh harap.
Akhir aku punya alasan untuk memejamkan mata. Senyum lembut itu redup. Tapi letusan kembang api tak berhenti. Bahkan langit makin berwarna. Dan berasap. Aku terdiam. Bukan tak ingin menjawab. Aku hanya berpikir sejenak, dengan cara seperti inikah kita merasakan kesenangan?
"Apa kau tak mencintaiku, suci?". Katanya sembari menggenggam kedua pergelangan tanganku.
Kembang api yang sedari tadi ditangannya kini lepas. Jatuh tepat digenangan air. Basah. Tentu saja itu tak akan bisa ikut mewarnai langit. Meledak dilangit. Dimalam pergantian tahun baru.
"Aku hanya mencintaimu, tidak memintamu mencintaiku".
Kadang-kadang kita butuh jawaban jujur disaat akhir...
Ada sesuatu didalam tenggorokanku. Aku merasakannya. Seperti pesta akhir tahun. penuh kembang api. Suara terompet dimana-mana. Langit yang berwarna-warni. Jalan protokol menjadi pasar malam semalam. Aku merasakannya, tidak memilikinya.
Sebelum aku melihat kau membakar kembang api ditangan kananmu yang berwarna merah gelap, angin telah membawaku melihat diriku kebelakang. Jauh disana. Sebuah tempat dimana aku merasakan cinta serupa kembang api. Terbakar dengan cepat. Seketika menyembur kelangit-langit. Bola mataku tak ingin berkedip dipenuhi warna. Tak lama kemudian redup, pelan tapi pasti. Hanya sisa asap ditelan angin. Lalu gelap. Tak ada cahaya.
Hujan kerap sempurna. Meninggalkan genangan luka. Menyisakan ingatan yang seharusnya telah kering musim kemarau tahun lalu.
"Sudah berapa lama kita bersama?". Tanyanya.
"Sehari setelah pertemuan dikedai buku itu, tiga tahun lalu". Jawabku dengan ingatan.
"Dan bahkan kau belum mengenalku".
"Denga cara seperti itu kau menilaiku?". Kataku. "Kau lupa, jika ingatanku lebih tajam darimu? Kalimat sampah yang kau retaskan di telingaku!". Aku menahan nafas, berusaha lebih tenang dari laut yang tercemar limbah pabrik.
"Kau hanya mendengar menggunakan telinga, seharunya kau mengunyahnya mengunakan kepala dan hati".
Langit seketika berwarna-warni tepat pukul 00.00. Suara-suara ledakan itu tak akan habis beberapa hari kemudian. Jalan yang dibanjiri manusia. Bahkan aku berdiri didepan lelaki yang aku kenal empat bulan lalu. Seperti inikah pergantian tahun? Tanyaku pada diri sendiri. Sebelum kembang api terakhir tersulut api, ia menggengam tanganku dengan sorot mata yang tulus. Seperti sebuah penantian berencana. Senyumnya yang memesona, membuatku untuk tidak memejamkan mata saat itu.
"Jika aku membakar kembang api terakhir ini, itu setelah mendengar jawabanmu". katanya dengan lembut.
Aku berusaha membalas senyumnya dan tetap diam. Bukannya aku tak memiliki jawaban, hanya saja, aku tak suka mengulang satu kata untuk pertanyaan yang sama.
"Apa kau tak ingin kembang api ini ikut mewarnai langit?" Katanya sembari menggoyangkan tangan kananku.
"Aku hanya tak ingin melihat burung-burung itu mati esok pagi".
Sore itu di bangku yang sama. Aku melihat sosok yang membuatku bahagia. Lelaki yang kukenal selama dua tahun lebih. Tawanya yang renyah tak berubah setelah ia kembali dari rantau. Terkadang aku sangat merindukannya, membuatnya cemburu untuk mendengarnya berceloteh tentang logika. Aku tak sepenuhnya membutuhkan logika, karena aku tahu, yang membuat seseorang cemburu bukanlah logika, tetapi perasaan.
"Kenapa kau berpikiran bahwa aku mendiskripsikan kalimatmu tanpa menggunakan hati?". Balasku dengan nada sedikit kesal.
"Karena kau tak mendengar semuanya". Katanya.
"Itu sudah cukup untuk membuatku menjauh".
"Hanya itu saja?".
"Kalimat yang tak seharusnya kau katakan".
"Hanya karena kalimat kita terbakar?"
"Apa aku harus mengulangnya?". Suaraku meninggi.
"Seharunya kau sudah melupakannya". Jawabnya dengan nada harap.
"Setahun ini aku ingin senang-senang, karena setahun belakang ini saya terlalu memprioritaskanmu". Kataku mengulang kalimatnya beberapa bulan lalu. "Bahkan kau tak mengerti dengan kalimatmu sendiri".
Setelah sore itu, tak ada lagi tawa renyah yang terdengar. Bahkan kisah-kisah itu. Tentang kekasih angin yang membelai lembut pucuk pohon. Jejak tak terlihat sepanjang kilometer empat. Rumput yang mengering dihalaman 'Halo, Aku Di Dalam Novel'. Dan tentang Dewi Athena yang lahir dikepala Zeus. Entah bagaimana caranya, aku harus menguburnya bersama kisah-kisah yang lain. Yang membuat ususku terburai keluar menjadi pintalan laba-laba.
"Hanya karena burung-burung?" . Katanya. "Aku hanya ingin mendengar jawabanmu malam ini". Katanya dengan sorot mata penuh harap.
Akhir aku punya alasan untuk memejamkan mata. Senyum lembut itu redup. Tapi letusan kembang api tak berhenti. Bahkan langit makin berwarna. Dan berasap. Aku terdiam. Bukan tak ingin menjawab. Aku hanya berpikir sejenak, dengan cara seperti inikah kita merasakan kesenangan?
"Apa kau tak mencintaiku, suci?". Katanya sembari menggenggam kedua pergelangan tanganku.
Kembang api yang sedari tadi ditangannya kini lepas. Jatuh tepat digenangan air. Basah. Tentu saja itu tak akan bisa ikut mewarnai langit. Meledak dilangit. Dimalam pergantian tahun baru.
"Aku hanya mencintaimu, tidak memintamu mencintaiku".
Kadang-kadang kita butuh jawaban jujur disaat akhir...
Kamis, 01 Agustus 2013
Disleksia
Sebulan abu-abu telah berlalu. Jejak pula mengenang mata merah yang basah terlalu. Lalu berkabut di antara blackhole yang menelan cahaya dan abu. Apa mungkin ada lidah yang terkontaminasi oleh uranium kemudian membuat telingamu remuk oleh radiasi? Atau karena kita mahluk yang memiliki neuron dan memilah memisahkan yang kiri dan kanan? logika dan perasaan? Don't blame love. Difference is reasonable and error is alive
Seperti cerita, kita lahir dari impian. Tak ada dingin yang berani merobek tulang sum-sum. Tak ada pula yang ingin mati oleh karakternya sendiri. Bahkan rasanya tak serupa menjilati lolipop sembari berayun dihalaman yang di penuhi coklat. Bukankah kita tak pernah bertualang hingga ke Taman Hershey? Kilat memecut langit yang kemarin menelan kupu-kupu.
Dunia kita berputar. Kadang berbenturan. Menerjemahkan waktu. Dari sapu lidi, cacing tanah hingga athena. dari pinggir got hingga di balik pintu kamar. Hingga berakhirnya musim hujan yang bergaun hitam. Dan lelaki itu memiliki rindu yang menghembuskan angin.
Beberapa kali terdiam menatap boneka hantu yang menempel di dinding tempat kita berbagi. Pandangan yang kosong seolah tak ingin kembali. Dan terjadi. Hanya saja tak ada hubungannya dengan boneka yang tak ingin aku kubur bersama matahari. Percayalah, cinta dan perasaan itu tak sama, serupa pisau dapur dan belati. Namun keduanya mampu melukai tapi belum tentu bisa membunuh. Tenggelamkan matahari dan dengarkan suara kaleng pembunuh sepi bergema hingga ke pori-porimu.
Hening telah berlalu...
Lelaki itu selalu bercerita tentang keinginannya. Merobohkan menara kerajaan langit. Mengalahkan para ksatria templar. Dan menantang pemaham sefiroth. Dan kau sudah tahu jika ia bukan lelaki yang duduk di antara... sudahlah. Itu akan terdengar sangat basi setelah kau tahu tentang Ucu Agustine. Si alien yang baik hati. Mungkin juga ia adalah vampire.
Kita bukan manufaktur yang berbahagia. Bukan pula selfis yang dirundung duka lara yang berlebihan. Kita adalah spektrum warna pelangi yang tak memperdebatkan kesedihan, bukan? Iyakan, Disleksia?

Seperti cerita, kita lahir dari impian. Tak ada dingin yang berani merobek tulang sum-sum. Tak ada pula yang ingin mati oleh karakternya sendiri. Bahkan rasanya tak serupa menjilati lolipop sembari berayun dihalaman yang di penuhi coklat. Bukankah kita tak pernah bertualang hingga ke Taman Hershey? Kilat memecut langit yang kemarin menelan kupu-kupu.
Dunia kita berputar. Kadang berbenturan. Menerjemahkan waktu. Dari sapu lidi, cacing tanah hingga athena. dari pinggir got hingga di balik pintu kamar. Hingga berakhirnya musim hujan yang bergaun hitam. Dan lelaki itu memiliki rindu yang menghembuskan angin.
Beberapa kali terdiam menatap boneka hantu yang menempel di dinding tempat kita berbagi. Pandangan yang kosong seolah tak ingin kembali. Dan terjadi. Hanya saja tak ada hubungannya dengan boneka yang tak ingin aku kubur bersama matahari. Percayalah, cinta dan perasaan itu tak sama, serupa pisau dapur dan belati. Namun keduanya mampu melukai tapi belum tentu bisa membunuh. Tenggelamkan matahari dan dengarkan suara kaleng pembunuh sepi bergema hingga ke pori-porimu.
Hening telah berlalu...
Lelaki itu selalu bercerita tentang keinginannya. Merobohkan menara kerajaan langit. Mengalahkan para ksatria templar. Dan menantang pemaham sefiroth. Dan kau sudah tahu jika ia bukan lelaki yang duduk di antara... sudahlah. Itu akan terdengar sangat basi setelah kau tahu tentang Ucu Agustine. Si alien yang baik hati. Mungkin juga ia adalah vampire.
Kita bukan manufaktur yang berbahagia. Bukan pula selfis yang dirundung duka lara yang berlebihan. Kita adalah spektrum warna pelangi yang tak memperdebatkan kesedihan, bukan? Iyakan, Disleksia?

Jumat, 18 Januari 2013
Twenty one's die
Ada matahari menghampiri ranjang. Petang menjelang. Gelap datang.
Wajah-wajah kemarin berhamburan. Serupa cermin menghantam lantai. Di tengah musim hujan. Bersamaan dengan menghilangnya suara tawa keras menembus langit.
Dering memecah hening. Percakapan tentang sesuatu yang terlewati. Bukan sesuatu yang berubah. Andai saja, malam itu ujung pena tak menusuk kepala dan leleran tintanya tak menyatu dengan darah dalam tubuh, Pasti cupid tak mematahkan anak busurnya.
"Setiap kronologi kejadian pasti ada sebabnya. Dunia ini berputar. Maka itu perubahan menjadi abadi. Kecuali liur yang liar masih tersimpan rapi dalam benak. Dan kesempurnaan cuma ilusi. Hanya perasaan bersyukur yang menghancurkannya."
Sebelum lulabi mendekap gambar-gambar dalam ingatan. Sebagiannya telah terbakar. Di dalam sana. Warna langit biru terang. Matahari terlihat sebagian. Awan pelan beriringan. Selalu ada suara. Tentang terik yang membelah kepala. Merobek kulit. Dan seruan buru-buru berada dalam kamar tengah. Depan kipas angin. Yang angka satu dan duanya tak berfungsi lagi. Ada ribuan kunang-kunang yang menjadi kenangan. Sekalipun pelajaran tentang kejauhan mengikisnya. Layaknya tetesan sisa hujan kepada batu-batu kali.
Dan untuk Disleksia, percayalah, langit tak akan menelan kupu-kupu yang membuat kita tertawa. Kemarin. Sebab esok telah kau makamkan pada lubang kekeliruan. Di lain kesempatan akan kulukiskan dalam tulisan tentangmu yang mungkin telah merajut cerita taman dengan satu bunga kesukaanmu. Tentu saja melebihi "si bunga bangkai". Titip salam buat rambut panjang, jempol dan tangis yang ter-rindukan. -Goodbye Goodboy-.
Wajah-wajah kemarin berhamburan. Serupa cermin menghantam lantai. Di tengah musim hujan. Bersamaan dengan menghilangnya suara tawa keras menembus langit.
Dering memecah hening. Percakapan tentang sesuatu yang terlewati. Bukan sesuatu yang berubah. Andai saja, malam itu ujung pena tak menusuk kepala dan leleran tintanya tak menyatu dengan darah dalam tubuh, Pasti cupid tak mematahkan anak busurnya.
"Setiap kronologi kejadian pasti ada sebabnya. Dunia ini berputar. Maka itu perubahan menjadi abadi. Kecuali liur yang liar masih tersimpan rapi dalam benak. Dan kesempurnaan cuma ilusi. Hanya perasaan bersyukur yang menghancurkannya."
Sebelum lulabi mendekap gambar-gambar dalam ingatan. Sebagiannya telah terbakar. Di dalam sana. Warna langit biru terang. Matahari terlihat sebagian. Awan pelan beriringan. Selalu ada suara. Tentang terik yang membelah kepala. Merobek kulit. Dan seruan buru-buru berada dalam kamar tengah. Depan kipas angin. Yang angka satu dan duanya tak berfungsi lagi. Ada ribuan kunang-kunang yang menjadi kenangan. Sekalipun pelajaran tentang kejauhan mengikisnya. Layaknya tetesan sisa hujan kepada batu-batu kali.
Dan untuk Disleksia, percayalah, langit tak akan menelan kupu-kupu yang membuat kita tertawa. Kemarin. Sebab esok telah kau makamkan pada lubang kekeliruan. Di lain kesempatan akan kulukiskan dalam tulisan tentangmu yang mungkin telah merajut cerita taman dengan satu bunga kesukaanmu. Tentu saja melebihi "si bunga bangkai". Titip salam buat rambut panjang, jempol dan tangis yang ter-rindukan. -Goodbye Goodboy-.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)



