Minggu, 19 Oktober 2014

Neila...

"Sayang, kamu sudah bangun? Hari ini jadi ke Risma kan?"

Mataku masih sayup. Siang itu pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Bias matahari tak pernah sampai kedalam kamarku. Mengatur nafas sebelum meninggalkan tempat tidur adalah kebiasaanku. Lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka-kemudian kedapur meneguk segelas air putih. Ternyata sudah dua panggilan tak terjawab di layar handphone.

"Sorry sayang, aku baru bangun. Iya, pesanannya hari ini sudah jadi. Kamu jemput aku?"

"Pemalas! Iya, ini sudah siap."

"Sms kalau sudah ingin menuju kesini."

"Ini juga sudah mau jalan."

"Oke. Aku mandi sekarang :*"


Setelah beberapa menit kemudian, aku pun sudah siap. Menunggu Neila di ruang tamu sembari menyeruput kopi yang baru saja bercampur air panas. Hari ini akan tampak melelahkan, bukan hanya mengambil pesanan gaun saja, tapi menyebarkan undangan pernikahan kami kepada beberapa teman dekat. Kemudian menuju lokasi untuk pemotretan pra-wedding kami saat sunset di tepi dermaga salah satu pantai kota ini. Kopi pun sisa setengah, dan ini batang ketiga rokok yang terbakar. Seperti biasa, aku selalu maklum pada Neila yang selalu telat. Sesaat setelah rokok batang ketiga telah habis terhisap, akhirnya Neila datang. Kami pun langsung berangkat mengendarai roda dua dengan warna merah saga milik Neila.

Di tengah perjalanan, sms Risma masuk. "Gio, maaf, saya lagi diluar urus kiriman di bandara. Datangnya malam aja yah."

"Okey, Ris." Balasku dengan tangan kiri.

"Jadi, kita nyebarin undangan dulu?" Tanya Neila sembari tangannya melingkar di perutku.

"Iya sayang." Balasku dengan tangan kiri mengusap tangannya yang menempel diperutku.

Hari itu cuaca sangat panas. Beruntung, karena kali ini aku memakai sepatu. Tidak seperti biasanya yang hanya memakai sendal jepit jika keluar rumah. Sekalipun ke acara nikahan. Setelah selesai kesana-kemari, keluar masuk rumah teman dekat menyebar undangan. Pukul tiga lewat lima belas menit, perutku keroncongan. Pikirku masih sempat untuk singgah mengisi perut di warung makan pinggir jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati coto Pettarani. Didalam warung itu Neila tampak begitu cantik, ia berseri.

"Minggu depan kita sudah tidak bertemu lagi yah?" Tiba-tiba Neila bertanya.

"Kan cuma seminggu, sayang."

"Rasanya setahun."

"Aku langsung merasa kenyang digombal sama kamu."

"hahahaha"


Neila tertawa lepas. Ia selalu lupa jika tertawa, lupa jika sekelilingnya menoleh kearahnya. Saat itu, aku memandangnya, mengingat kembali saat pertama kali berjumpa di bawah Flyover. Ketika itu ada aksi untuk warga Rembang dan Karawang yang tergusur. Empat tahun telah kami lalui dengan suka duka. Yang awalnya aku tak direstui kedua orang tuanya karena seorang pengangguran. Hanya perasaan yang kuatlah hingga kami akan bersatu dipelaminan dua minggu kedepan. Setelah makanan habis, kami melanjutkan perjalanan hari ini. Yaitu menuju lokasi pemotretan. Dua teman kami telah tiba lebih dulu dilokasi. Beberapa menit kemudian, kami pun telah tiba. Suasananya sungguh tepat, saat itu pengunjung sepi. Dan cuaca yang mendukung. Tak lama lagi sunset akan terlihat. Aku dan Neila bergegas untuk mengganti pakaian. Ada dua kostum yang Neila sendiri persiapkan. Yang pertama : Konstumnya hitam-hitam. Dan kedua : Kostumnya Putih-putih. Setelah beberapa kali pengambilan gambar, Sunset pun bertukar dengan senja kelabu. Diturunkannya tirai malam dengan bulan dan bintang. Kami pun bersiap-siap untuk menuju tempat Risma.


Sekitar pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, kami pun tiba di tempat Risma. Ada lelah yang terbersit diwajah Neila. Bayangkan saja, seharian kami berdua berada dijalan. Kesana-kemari. Tapi saat Risma memamerkan gaun buatannya kepada kami, terlihat Neila kembali bersemangat. Bahkan ia langsung melompat kearah Risma. Gaun putih itu sungguh sangat cantik. Neila langsung mencobanya. Ia memasuki satu-satunya kamar di tempat itu. Bergegas melepas pakaiannya, dan menggunakan gaun putih buatan Risma tersebut. Kurang dari lima menit, Neila pun keluar dari kamar. Mataku terperangah, Neila sangat... Ia seperti bercahaya. Pikirku dalam hati, seperti ini saja ia nampak cantik, bagaimana jika sudah didandani minggu depan?

"Kok menganga begitu, sayang? Kagum yah? hahaha..."

"Ih pede kamu."
Serentak Neila dan Risma tertawa karena melihat aku menyembunyikan pandanganku pada Neila yang sangat cantik dengan gaun putih itu. Aku hanya senyam-senyum salah tingkah.

Akhirnya kami ngobrol-ngobrol beberapa saat dengan Risma, tentang pernikahan kami. Kebetulan, Risma sendiri yang akan memoles wajah Neila dan tentunya juga aku di hari-H. Dan tak terasa jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit. Kami pun pamit kepada Risma, dan berterima kasih banyak atas gaun putihnya yang sangat cantik.

Dijalan, Neila sangat girang. Ia memeluk bungkusan gaunnya. Ia bercerita bahwa saat pesta, aku akan melihat peri turun dari langit. Peri itu akan berdampingan denganku. Seekor peri putih yang bercahaya, seperti aurora. Aku hanya tersenyum dan mengelus lututnya sebagai rasa syukurku-bahwa kami akan hidup bersama juga. Mengarungi samudera rumah tangga dengan suka duka.

Aku menatap Neila melalui kaca spion sebelah kiri, ia masih bercerita, bahwa peri tersebut akan selalu menemaniku dalam keadaan apapun. Peri yang tak pernah melukaiku, karena ia diciptakan hanya untukku. Karena peri itu diciptakan hanya untukku. Karena Neila diciptakan hanya untuk Gio. Lalu datang cahaya dari sisi kiri, yang lebih terang dari cerita Neila tentang peri yang cantik dan baik hati itu. Peri yang tak pernah meninggalkanku.

Tiba-tiba jalan begitu macet. Kendaraan berhimpitan, padahal ini sudah larut. Kami berusaha keluar dari kemacetan yang lumayan panjang. Tapi Neila sudah tidak bercerita lagi tentang peri khayalannya. Mungkin ia begitu lelah. Gaunnya masih berada dalam rangkulannya.

Butuh waktu kurang lebih dua puluh menit untuk lepas dari kemacetan tersebut. Hingga angin terasa sangat dingin. Tapi tak terasa hingga ke tulang. Saat melewati Flyover, tempat dimana kami bertemu, aku menoleh kebelakang, dan Neila tersenyum. Ia langsung memelukku sangat erat. Tapi tidak menghilangkan hawa dingin disekujur tubuh. Setiba dirumah, kami tidak menemukan seorang pun. Tapi tak ada pintu terkunci. Akhirnya aku menyuruh Neila untuk balik.

Hampir setiap malam aku menyuruh Neila untuk balik. Setiap jam sepuluh malam, saat ia datang, aku pasti menyuruhnya untuk balik. "Ini sudah jam sepuluh malam sayang, nanti Ibu mencarimu." Seperti itulah jika Neila mendatangiku. Aku pasti menyuruhnya untuk balik. Balik dan balik. Aku tak ingin jika Ibunya semakin khawatir. Hingga suatu malam, aku mendengar di ruang tamu Ibu menangis, Ibu Neila juga menangis. Aku tak tahu kenapa mereka menangis. Bukankah aku dan Neila akan menikah minggu depan?

"Seperti itulah keadaan Gio, Bu Lina. Setelah kejadian tiga bulan lalu. Aku mengutuk sopir truk itu, ia yang membuat hidup anakku seperti ini. Ia yang membuat Neila pergi untuk selamanya, dan ia pulalah yang mebuat Gio harus dipasung di kamar tengah itu."

Tangis pun pecah. Aku mendengarnya, suara tangis itu. Bukan, bukan. Bukan suara tangis dari Ibu kami. Aku tahu, itu suara tangis Neila. "Pulanglah, sayang. Ini sudah hampir jam sepuluh malam, Ibu nanti mencarimu. Pulanglah, Neilaku sayang."

Rabu, 01 Oktober 2014

Aminor

Ia yang sore itu ditengah kerumunan demonstran. Aku yang sore itu diantara mereka. Seperti biasa, mataku yang nakal selalu cepat merespon hal-hal yang indah dalam situasi genting sekalipun. Tampak sederhana dengan senyum yang tak mengada. Beberapa kali meliriknya tetap saja merasa kurang. Penasaran pun itu datang tak di undang, ada getar yang entah kenapa saat memandang kearahnya. Hingga bubar karena bentrokan dengan sekumpulan orang yang aneh. Menurut kami mereka itu aneh, mungkin menurut mereka, kami juga ini aneh.

Selalu ada kekuatan untuk sesuatu yang penasaran. Cukup sekali bertanya, dengan orang yang tepat, nama yang kau inginkan melekat seketika dikepala. Dan percayalah, mesin pencari manusia nomor satu bukan lagi barang langka. Senang pun tiba secepat aku menemukannya di obrolan sosial media. Bertukar link Blog yang sama-sama ingin dikritisi kemudian merembes pada hal-hal yang lebih menarik. Malam itu pun aku membacamu lebih dari 'Cantik Itu Luka'. Kau menyebutku Si Penggoda. Aku tertawa. Kita tertawa diantara 'perang yang tak akan pernah kita menangkan', budaya patriarki dan hirarki, kesetaraan gender hingga kelamin yang terjaga. Sekalipun diawali oleh kecurigaan bahwa aku seorang Intel, seketika bibir ini berpacu dengan otak kiri kemudian bernyanyi dalam hati salah satu lagu dari Social-D.

Making believe, I'll spend my lifetime, loving you and making believe...

Tapi tetap saja, cinta bukan gelas yang berisi kopi panas kemudian menyeduhnya dengan terburu-buru. Jika tak sabar maka Ia membuat lidahmu melepuh. Butuh waktu untuk bisa merangkai sedikit demi sedikit puzzle yang terbuat dari perasaan ini hingga mendapat sedikit kepercayaan. Dan waktu pun serasa tak cukup hanya untuk sekedar berbagi cerita satu sama lain. Saling melempar dialoq panjang kali lebar yang berujung rasa kantuk di subuh hari. Berhari-hari hingga tak adalagi yang tertutupi, kata-kata itu pun telanjang tanpa batas. Berlari sesuka hati, menerobos makna cinta itu sendiri.

Lalu kita mulai ditumbuhi bunga-bunga mekar serupa taman yang di tinggal pergi pemiliknya. Menatanya perlahan-lahan hingga membentuk sebuah jalinan abu-abu yang menjadi kisah penuh warna. Kisah bunga tak bertangkai dengan ribuan warna. Ia tak membutuhkan tangkai untuk menjadi indah, yang Ia butuhkan hanyalah semangat. Begitupun aku padamu, tak ada alasan untuk mencintaimu. Yang ada hanya rasa percaya, bahwa kedatanganku bukan untuk menghisap sarimu kemudian terbang ketempat lain, karena aku adalah gembok dengan ribuan kunci yang menjaga merah sagamu.

***

Dan ketika hawa subuh yang memanas saat itu. Kita berseluncur basah disudut gelap diantara tidur yang tak terjaga. Beradu rasa dengan bisik-bisik suara. Bersuara parau. Menit demi menit yang begitu tegang. Hingga akhirnya kita berdua berdiri di tempat yang sama. Di tempat yang membuat mata perih oleh asap. Mundur oleh asap. Ada khawatir yang begitu jelas antara kita. Terpisah oleh kawanan yang berhamburan. Dan rasa panik hilang saat kau melambaikan tangan di bawah pohon beringin. Cara membalas lega pun hanya dengan senyum, lalu menuju ruang tak di sangka. Ruang yang membuat kita menyatu dalam subur. Begitu erat hingga tak ada lagi waktu yang berjalan. Hanya deru nafas yang bergitu cepat. Deru nafas yang menciptakan cerita bahwa Aminor tak selamanya sedih dan kelam. Dan kita berdua tahu bahwa kepala kita tidak perlu tahu kesepakatan hati kita. Karena cinta yang baik lebih membutuhkan perasaan, bukan isi kepala.


Minggu, 28 September 2014

Dari Memorabilia Hingga Kun Fayakun.

Melipat September dengan romantisme ilegal. Belum sekali pun turun hujan. Hanya saja, tanah tempat kaki mereka berpijak begitu basah. Oleh marah. Apa kalian pikir, bahwa ranjau adalah bagian dari instrument? Kita bertemu pada garis yang tak sejajar. Mengimbanginya dengan gurihnya cerita. Merangkai Kun hingga Fayakun. Dan kau, yang kelak kami panggil Aminor, tabahlah akan waktu yang membuatmu berada di atas garis-garis tangan orang lain.

Tempo hari aku bercerita tentang sesuatu yang nisbi. Sesuatu yang turun runcing dan tajam. Mendarat di lantai hati. Membuat jalan menyeringai jadi rintangan. Yang membuat kita berdua, menolak menjadi cahaya artifisial. Tentang isme-isme yang berhamburan di kepala. Bahwa kita adalah seberkas permainan semesta. Diracuni pengetahuan. Di nina-bobokan pemahaman. Bukankah kita menyatu dalam subur, karena perasaan? Hingga di kemudian hari, peristiwa ini akan patut dikenang.

Kita akan menari, melewati retakan ini. Berdansa pada situasi yang kikuk. Sekalipun harus dicacah sudut. Dipantulkan kondisi ke segala arah. Hingga remuk pun, bukanlah sebuah alasan untuk menyerah. Aku tak ingin gerakku tergenang kering dalam kata-kata saja.
Hingga tak bisa membedakan garis tipis antara naif dan moron. Serupa roller coaster, tapi aku menolak untuk sekedar teriak. Karena kau sudah tahu, aku pun sudah tahu, bahwa tak ada angin canggung yang berani lewat dihadapan kita. Lepas begitu saja. Tak perlu merapalkan doa hanya untuk melihat langit yang mulai menghitam.

Hingga di suatu pagi, saat kado yang terbungkus pelangi itu terbuka. Kita akan bebas melayang, bergerak sesuka hati, berputar tanpa pusing, menari tak perlu irama, terbang seakan tak ada gravitasi dan jungkir balik pun begitu menyenangkan. Tak akan ada lagi cahaya yang redup. Tak juga membiarkan waktu berjalan menggunakan sepatu dengan tali merah. Dan juga tak akan ada yang membuatmu terisak disudut kamar. Karena saat itu, aku akan memiliki sayap yang membawaku terbang ke Dunia Aux. Sayap yang kudapatkan saat semua yang hadir di belakang kita serentak berkata : SAH!!!

Kamis, 18 September 2014

Bayang-bayangku Di Dalam Matamu

Senja menjadi alarm untuk beranjak. Jejak di taman menjadi acak. Sajak yang tak mengenal jarak. Seperti arak, kita berdua mabuk kepayang. Kau menamaiku rasa. Aku menyebutmu rindu. Kita menjuntai kepucuk awan. Melebur pada tanah. Menjadi daun pada tangkai yang sama. Dimatamu aku melihat muara. Dimataku kau mendengar suara. Yang kemudian merekah di telingamu. Hingga bergetar di dada. Jika sesuatu yang besar akan datang bersama angin. Siapkah kau mendengar kisah sepasang kunang-kunang, yang hidup di belantara hutan-hutan lama di Antiochia? Tempat dimana mereka tak saling mengenal satu sama lain. Mereka saling melupakan, sekalipun berwarna sama. Kesalahannya, karena mereka tak membuat pilihan, hutan mana yang di tujunya. Cuaca malam hari yang tak membuat mereka menjadi terang. Tanah di hutan itu adalah perkara sebenarnya. Tak ada jalan keluar, kecuali menikmatinya. Maka bernafaslah dalam-dalam sebelum menyelam.

Riak-riak air matamu terbaca. Menafsirkannya di tengah ranjang. Jawabannya sama saja, malam yang terluka dan bulan yang terbelah dua. Hanya saja aku percaya, bayang-bayangku ada di dalam matamu.

Rabu, 17 September 2014

Sisa Rumah Pohon Pisang


Pagi itu saat langit masih mentah. Akan kuingat sepanjang hidupku.

Mataku yang sembab tak sempat tersentuh air. Didalamnya, robot kuning berjalan menuju tempat kami, tempat bermain dengan peri okeanida. Tapi aku tidak khawatir sedikit pun, peri itu bisa terbang menembus awan. Ia juga bisa menghilang atau bersembunyi dalam batang pohon jambu. Bahkan jika Ia ingin, sekali kepakkan sayapnya robot itu akan hancur berkeping-keping. Aku berharap peri okeanida ada di sekitar sini. Hingga aku tak perlu bercerita panjang lebar saat bertemu dengannya. Semoga Ia tak di marahi Ibunya yang selalu ngomel karena berteman denganku. Ibu peri yang melarang anaknya bermain petak umpet dengan teman-temanku.

Lamunanku buyar tentang teman periku yang rumahnya berada di kompleks sebelah, saat robot besar berwarna kuning dengan bercak-bercak hitam di tubuhnya semakin mendekat. Perasaanku sedari tadi tak karuan. Sepasang kaki ini kaku. Begitu pun dengan wajahku. Senyumanku hilang saat orang lain-lain serentak berdatangan. Langkahnya bagai gemuruh dilangit kelam. Bahkan saat aku mulai mengerti mengapa sebagian orang di sekitarku mengeluarkan air mata bukan karena asap putih itu. Melainkan saat ayunan pertama dari moncong robot itu. Suara-suara berhamburan terasa sesak didalam dada. Aku bahkan tak mengerti, kenapa aku mendengar menggunakan hati bukan telinga.

Satu persatu tempat tinggal kami roboh oleh moncong itu. Aku heran, mengapa Ia tak memakannya saja atau menyedotnya hinggat habis. Mungkin Ia dan kawan-kawannya lupa, jika menyisahkan remah-remah, akan datang koloni semut merah yang lebih marah lagi. Seketika semuanya rata dengan tanah. Dari dinding hingga lantai dada ini semakin sesak. Bibirku bergetar. Perlahan-lahan air mataku membuat garis lurus di kedua pipi. Riuh teriakan dari segala arah. Aku pikir itu adalah permohonan dari sumur yang terkena runtuhan atau mungkin cacian sisa rumah pohon pisang kepada robot kuning dengan bercak-bercak hitam di tubuhnya itu dan kawan-kawannya. Tiba-tiba aku ingat huruf-huruf yang tertempel di dinding sekolahku. tepatnya, rumah yang di jadikan sekolah. Ternyata Ia juga bernasib sama dengan yang di sekelilingnya. Huruf-huruf yang mengenalkanku bahwa "Budi itu anaknya Bapak dan Ibu Budi. Bahwa "Kaki tidak digunakan untuk makan". Atau mungkin saja kelak, huruf-huruf itulah yang memberitahuku bahwa "Karena Penggusuran Ada Dimana-mana Maka Perlawanan Juga Harus Ada Dimana-mana", mungkin saja. Setelah huruf-huruf itu, aku mengingat buku yang ku tempati menggambar. Aku senang menggambar rumah. Akan aku penuhi warna. Tempat menyimpan semua kebahagiaan. Rumah yang aku bangun oleh telunjuk dan jempol. Anehnya, mengapa mereka menggunakan robot sebesar itu untuk menghancurkannya? Sepertinya mereka tidak senang dengan gambaranku. Jangankan itu, pakaianku pun mereka tidak mengizinkan untuk mengambilnya. Padahal mereka tidak mengambilnya, hanya membiarkannya terhimpit reruntuhan yang dibuatnya. Sepertinya mereka membenciku.


Aku mengenang langit pagi empat hari yang lalu. Saat dunia mengkhianati, saat itu pula aku bermain di atas tanah yang beberapa hari lalu berdiri sekalipun tak kokoh. Robot kuning dengan bercak-bercak hitam di tubuhnya itu dan kawan-kawannya sudah tak ada. Mereka membangun dinding yang menyilaukan mata saat matahari di atas ubun-ubun. Perkiraanku benar, mereka lupa mengambil senyumku dan senyum teman-temanku. Mereka juga lupa meruntuhkan semangat Ibu, Ayah dan kawan-kawannya. Sehingga kami masih tetap berada di sini. Bersama teman-temanku, kami bermain. Ia mengejarku, melempariku gas air mata, aku berlari sembari melemparinya batu. Mataku mulai kepedisan, tapi aku tidak bersembunyi dibalik kardus yang di jadikannya tameng. Bukankah itu tindakan pengecut? Melempariku gas air mata sebari sembunyi di belakang tameng.

Senja pun tiba. Warna langit merah saga. Kedua kaki-ku berdebu. Sisa rumah pohon pisang akan kedinginan. Tak ada lampu di reruntuhan. Ibu mandi di sumur yang selamat. Begitu pun dengan Ayah. Aku pun mandi disitu. Begitu pun teman-temanku. Dan semua yang pernah bermukim di atas tanah itu.

Cahaya bulan mulai nampak. Bias lampu dari rumah-rumah seberang membuatku terduduk di bawah tenda berwarna biru. Pikiranku menerawang kebelakang dinding baru itu. Perasaanku mengatakan, yang membuat dinding itu adalah mereka sekumpulan orang jahat. Memisahkan kami dari kehidupan yang layak. Dari kenangan-kengan yang membatu di dalam rumah. Apakah mereka iblis? Kemana pula peri okeanida, tak jua menampakkan dirinya lagi? Jika Tuhan mendengar doaku yang tak khusyuk ini, aku hanya berharap, tak akan ada lagi yang meninggalkan kami selain peri okeanida. Biarkanlah hujan saja yang reda.

Ada kelelahan bersemahyang dalam tubuhku. Ia butuh istirahat. Sama halnya dengan perutku jika keroncongan. Ia butuh makan. Maka terlelap dengan teka-teki kehidupan yang tak sanggup aku pikir saat ini adalah keharusan. Sebab esok, pagi akan menuntunku untuk melihat langit yang masih mentah. Disitu, akan kembali kuingat sepanjang hidupku. Sepanjang hidupku!





Sabtu, 06 September 2014

Too Drunk To Vote!

Pemilu telah membuat hegemoni yang membuat kita lupa, bahwa kita sedang tertipu. Paradigma "dominasi investor" hanya menguntungkan pemerintah dan pengusaha. Sedangkan rakyat lokal menjadi korban. Korupsi di Indonesia adalah struktural perumus kebijakan tidak pro-publik. Kemiskinan di indonesia sebagian besar adalah kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang terjadi karena struktur sosial membuatnya miskin. Ilusi demokrasi melalui pemilu dengan politik transaksional. Harus diingat bahwa pencapaian dalam bentuk angka di pemilu hanya simbolistis saja. kenapa? Karena bukan itu substansinya. Pemilu hanya merubah nasib Caleg dan Parpol yang lolos, bukan rakyat. Kita semua tahu, saat kampanye, kalian hanya dilihat sebagai massa dan saat pemilu, kalian hanya sekedar angka-angka semata. Hanya sekedar angka-angka semata!

Minggu, 17 Agustus 2014

Betapa Menyedihkannya Menjadi Apatis

Saya adalah seorang apatis terhadap sesuatu yang mungkin atau memang tidak menguntungkan bagi diriku. Paling tidak simbiosis mutualisme harus berdiri tegak dalam hidupku dan memang itulah yang terjadi. Apa yang kulakukan untuk orang lain harus punya timbal balik yang sepadam, dimana sistem telah menjadi rantai kehidupan yang mengcekik leherku hingga nyaris putus saat pagi hari tanpa sarapan, begitu pun di saat siang, dan malam hari. Bahkan saat kita tidur pun sistemlah yang menyanyikan Twinkel-Twinkel Little Star. Belum lagi akses internet yang membuatku wajib untuk mengupdate status biar kelihatan hidup sehidup-hidupnya, pakaian yang kugunakan pun harus sesuai dengan jamannya, mulai dari merek A hingga Z atau seberapa canggih layar sentuh dan tombol querty yang akan mengangkat status sosialku di dalam lingkungan sekitarku. Yah, seperti itulah sistem berjalan, kita dibuat menjadi sebuah nilai dari angka-angka yang fungsinya hanya sebagai nilai tukar saja. Kemajemukan ilusi.

Saya adalah seorang apatis, termasuk dalam pembahasan hingga keharusan berkontribusi terhadap pemilu yang di sebut 'hak suara'. Menjadi masyarakat beradab bukan hanya dengan jalan melanggengkan langkah-langkah korporasi meluruskan cita-citanya untuk mengeruk dan merampok apa yang bukan miliknya untuk kepentingannya semata. Ada hal yang membuatku kadang merasa mual ketika membuka beranda Facebook, ada puluhan akun yang melakukan ritual pemujaan terhadap jagoannya, ada pula yang melakukan Black Campaign sejenis sumpah serapah hingga perdebatan tanpa ujung. Atau ketakutan-ketakutan yang lahir jika Si Militerisme, karena di belakangnya ada ribuan fundies yang siap menjadikan negara ini menjadi 'suci'. Atau ketakutan bahwa kita menjadi budak militer? Di culik? Di lenyapkan? Hello, bukankah itu semua sudah terjadi dari bertahun-tahun lalu? Ayolah sayang, bukan itu yang membuatmu harus menjadi api kemudian padam oleh debu.


Saya adalah apatis pada ajang yang konon katanya paling bergensi bernama Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brazil, dimana 32 negara bertanding memperebutkan gelar juara 4 tahunan ini, dimana para kapitalis global berkumpul menyaksikan penggusuran, dimana riuh ratusan ribu penonton menikmati ceceran demi ceceran darah yang tumpah memperjuangkan haknya, dimana para gamblers bertaruh diatas tumpukan mayat yang tak mengerti kenapa mereka di singkirkan begitu saja hanya karena pembangunan stadion. Sepertinya Tuhan lebih apatis dariku. Sepertinya Tuhan lebih memihak kepada mereka yang memiliki kontrol penuh atas semua yang di inginkannya.

Saya adalah apatis untuk tidak menikmati sirup di siang hari pada bulan yang serentak di sucikan oleh korporasi yang mengatasnamakan ketaqwaan umat, dimana provider ponsel dan iklan rokok menjadi topeng raksasa berpayung agama untuk produk mereka, dimana Nabi, ayat suci, Tuhan dan setan menjadi komoditi di seluruh media, dimana para fundamentalis menjadikanmu haram karena warung makanmu buka di siang hari.

Saya yakin jika dari kecil setiap manusia diajari untuk 'memahami', dunia akan menjadi tempat yang 10 kali lebih baik dari hari ini. Dan tentunya tulisan sampah diatas itu tidak akan pernah ada, terlebih oleh diriku yang tak pernah berbuat apa-apa untuk hidupku apalagi untuk hidup orang lain, dan sekarang aku paham, betapa menyedihkannya menjadi apatis.