Minggu, 18 September 2011

Sore menanti ajal...

Sore melipur lara, sore yang marah…

Kipas angin berkecepatan maksimal. Tiga bungkus rokok, dua yang kosong satunya terisi setengah. Gelas kaca jumbo. Botol minuman satu liter. Headset yang baru terbeli. Dua lemari kayu besar, satu kecil dan satu lagi terbuat dari plastik. Kamar pecah. Panas.

Pintu terbuka seperempat.

“kau akan kalah! Hahaha”

“tambah 50 ribu?”

‘100 ribu!”

“oke”

Arena dari kardus berlantai karpet tua. Dua pahlawan dari kubu berbeda dan puluhan penonton. Berkumis lebat, sedang, dan baru bercukur. Tinggi. Hitam. Bau matahari. Knalpot resing lewat. Taji munusuk kepala lawan.

“pelan-pelan anjing!!”

Cecep yang kalah. Satu lagi yang mati. Kepala lebih dulu masuk kedalam karung. Di ikat lalu di buang di tempat sampah belakang rumah.

Kipas angin sudah sekarat, bagai leher terinjak truk. Asbak kaleng telah sesak puntung rokok. Bungkus yang berisi setengah kini jadi seperempat. Dan ada lagi yang terisi. Gelas kaca jumbo yang sedari tadi bening, kini berpendar menjadi merah gelap dan berembun. Srrupp. Segar.

Lelaki berkumis tebal, tegap, pekat dan bau matahari pulang menembus petang dengan senyum penuh semangat berserta rombongannya. Pahlawannya babak belur. Tapi ia membunuh. Menghasilkan dan tak sia-sia di rawat.

“ini untukmu”

“kok banyak begini?”

“sudah. Tidak usah banyak Tanya. Untung di kasi!”

“tapi ini dari mana?”

Pipi kanan membentuk telapak tangan berwarnah merah. Darah bercucuran. Bibir pecah. Lebam. Bulir air mengalir dari kedua bola mata perempuan yang ia kawini delapan bulan lalu. Istri ketiga.

“berhenti”

Perempuan kecil berkulit kuning langsat tertunduk. Telapak tangan kanan di pipi kiri. Menyembunyikan bekas luka. Namun ada yang mengintip keluar. Menatap sinis lelaki berkumis lebat yang duduk dikursi rotan yang berdenyit. Ingin menikam.

“kopi”

“kamu dengar”

“kopi… anjing!!”

Meja berkaca pecah. Asbak di ujung pintu, terbalik. Serpihan kaca menusuk telapak kaki dan hati. Tangis di dada. Tenggorokan bernanah. Garis-garis lurus berupa bukit meladak di ujung senja. Persetan delapan bulan lalu. Istri ketiga. Keempat dan seterusnya.

Satu lagi yang mati. Kepala lebih dulu masuk kedalam karung. Di ikat lalu di buang di tempat sampah belakang rumah.

Satu lagi yang mati. Dibalik besi karatan. Vonis jatuh. Penyesalan akhir cerita. Kepala terpisah. Di ikat lalu di buang di tempat sampah belakang rumah.

Ada lagi yang mati. Sore menanti ajal…


Sabtu, 17 September 2011

menelisik jarum di bibir pantai

Menelisik jarum di bibir pantai…



Rombongan camar telah mengarah kemari. Kami menyebutnya sunset telah kelabu dan petang pun mengiring langkah gadis kecil hingga disudut kamar yang tak teratur. Menatap ke langit kamar yang menembus langit gulita dari sela-sela lubang yang tak beratur pula.

Deburan ombak di halaman rumah yang beradu dengan suara kresek yang masih lumayan jelas dari tape tua berwarna hitam.

“la turung bosi ji pale’, ri ta’giling na alloa….”

Yeni dengan mata terpejam dan pendengaran yang tajam memalingkan tubuh ringkihnya kearah jam weaker yang bergambar lumba-lumba berharap suatu saat nanti bisa berteman dengan seekor mamalia laut yang bersahabat itu dengan dirinya.

Di pulau kecil yang penghuninya tak lebih dari 25 kepala keluarga ini tak ada satupun yang ingin mendekati yeni, selain ayahnya yang sudah tua dan batuk darah, dan ibunya yang mengalami gangguan jiwa karena kejadian 3 bulan lalu saat 2 anaknya ikut tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi. Tertelan laut. Dingin, gelap dan didasar sana sudah pasti basah.

Ibunya yang di pasung di ruang tengah terkadang teriak memanggil anaknya, mengutuk laut dan memaki siapa saja yang melintas depan rumahnya. Sedangkan yeni yang menderita penyakit kulit di sekitar wajah, tangan dan pundaknya hanya berharap datang seekor lumba-lumba yang menemaninya mencari kedua kakaknya didasar laut.

Rombongan camar telah melewati pulau ini, menuju laut. Dan yeni selalu berdoa untuk cama-camar itu, semoga mereka tidak tenggelam dengan hasil tangkapannya ditengah sana.

Tak ada tempat lain selain di depan rumah yang berhadapan bibir laut tempat yeni menikmati hidup.ia tidak berfikir untuk bisa sembuh dari penyakitnya, ia hanya meminta pada penguasa laut untuk mengembalikan kedua kakaknya dan perahu plastiknya. Perahu plastik yang dibuatkan olek kakaknya saat genap berusia 7 tahun.

Matanya mengarah ke laut, ibunya teriak tak jelas dan ayahnya. Yeni selalu menganggap ayah seekor lumba-lumba yang setia menemani ibunya yang sedang sakit. Selalu mengajak yeni berbicara walaupun yeni tak membalasnya dengan kata-kata hanya gerakan tubuh atau anggukan kepala, ayahnya tetap menjadi seekor lumba-lumba.

Ia tak berpendar, kakinya tenggelam kedalam pasir coklat, wajahnya memucat namun bibirnya tersenyum. Ia melihat segerombolan lumba-lumba melompat-lompat di tengah laut, seperti melintas dari arah timur ke barat. Namun ada dua ekor lumba-lumba yang berwarna coklat kepucatan mendekati yeni. Lumba-lumba itu seakan berbicara pada yeni, dan yeni seperti mengerti bahasa lumba-lumba itu.

“kesini yeni, kita bermain bersama”

“ia, tapi kita tunggu camar-camar lewat dan ajak juga bermain”

“camar-camar itu tidak akan lewat, ia telah bermain”

“tapi…”

“kesinilah yeni, kita bermain kapal-kapalan”

Yeni sangat senang bisa bermain kapal-kapalan dengan kedua lumba-lumba coklat pucat. Matanya yang kegirangan seakan telah menemukan apa yang sebenarnya ia cari. Dan puluhan tetangga yeni menyusuri laut, ada yang bernang, menyelam dan ayahnya yang tak kuasa menahan tangis.

Hingga tengah malam, tak ada hasil. Semuanya kembali kerumah masing-masing. Ayahnya mengambil boneka lumba-lumba yang ada di kamar yeni lalu mengikatnya di pinggulnya.

“bu!”

hanya itu yang ia katakan pada istrinya yang diam membisu, lalu menggendongnya sekuat tenaga dan berjalan kearah laut sembari berbisik di telinga istrinya.

“kita akan berkumpul bersama anak-anak kita lagi, bu!”

Camar pun telah berpulang….

Kamis, 08 September 2011

Jika “Newsletter” Haram Bagimu

Saya tidak menyalahkanmu jika “newsletter” haram bagimu, mungkin isi kepalamu sudah penuh sesak akan “miskin pemahaman” dan “dangkal logika”. Sejak parameter non-mainstream kau ukur dengan seberapa cepat kau modifikasi sepeda ala George King Barris.



Mengeluarkan statement itu mudah, bagai membalikkan telapak tangan. Namun mempertanggung jawabkannya bagai menelan Himalaya dalam hitungan detik! Kau, saya dan mereka sama inginnya terlihat paling hebat, paling jenius atau paling idiot sekalipun dalam ber-retorika menyambut liur yang telah mengering dan berkarat beberapa tahun lalu, beberapa bulan lalu, beberapa hari lalu atau yang parahnya beberapa jam lalu. Oh shit!



Meng-interpretasikan diri dengan pemahaman leninshit, marxshit atau holyshit sekalipun saya tidak perduli. Mengambil jalur “kekiri-kirian”, “kekanan-kanangan” atau “kekanak-kanakan” sekalipun saya tidak perduli tentang hidupmu yang melacurkan diri pada hasrat pembuluh terluar, ambisi pinggiran, bla bla bla…



Newsletter, Zine atau Selebaran yang biasa kita temui di tempat-tempat kolektif, di rumah-rumah info atau dari tangan ke tangan adalah satu bentuk perlawanan terhadap media mainstream yang berfikir seribu kali untuk memuat band-band bawah tanah yang tak layak jual baginya, yang tak layak di komsumsi baginya, yang tak layak di bicarakan baginya!

Maka dari itu, mereka yang terlebih dulu ada di dunia kolektif membuat sebuah wadah perlawanan terhadap media mainstream yang berwujud Newsletter, Zine atau Selebaran yang kau haramkan bagimu idiot pengendara sepeda ala George King Barris!



Yang jadi pertanyaan, seberapa luas “media” itu dalam idiologi dan idealisme-mu??



Hanya sebatas tulisan yang jumlah paragraf-nya tak mampu kau hitung dengan jari-jemari? media adalah sumber informasi, sebagai informasi sudah pasti membuat kita tahu apa yang belum kita ketahui sebelumnya. Yang membedakan media mainstream dan non-mainstream adalah bukan cuma di pabriknya, tapi cara produksinya juga. Media non-mainstream juga terbit suka-suka alias tidak berkala seperti media mainstream lakukan, berkala. tuntutan laku tidak laku bukan masalah bagi media non-mainstream dan ada juga media non-mainstream yang di gratiskan, tidak memiliki hak cipta, kalian ingin copy sebanyak yang kalian inginkan pun tidak jadi masalah. Atau kata teman ku “kalian mau sebut itu punyamu pun tidak jadi masalah”!



Tunggu, tunggu… hp itu apa? Facebook itu apa? Browsing itu apa? Ohh shit saya baru tahu kalo kalian, kalian, kalian yang anti-media dalam labirin ter-fatal pun masih meng-komsumsi media yang ingin kalian bumi hanguskan rata dengan tanah! Bagai bunglon yang menjilati isi dunia, melebihi psk yang mejajakan tubuhnya pada lelaki hidung belang, melampaui busuknya judas sekalipun! Cuihhh…!!!



Hp dengan merk apapun, facebook dengan pertemanan berapa pun dan browing tentang apapun, kalian yang meng-haramkan “Newsletter” adalah ambigu dengan tetek bengek sok pahlawan komunitas dengan kapasitas tai kucing yang berselubung dari rentetan jilat menjilat selangkangan mainstream!



“Kami memang akan kalah besok. Disingkirkan lusa. Dilenyapkan minggu depan. Terpuruk berulang setiap tahun. Dimakan habis kompromi di penghujung hari. Namun bukan hari ini. Mungkin belum, mungkin tak akan pernah. Yang pasti bukan hari ini. Kami masih punya hari ini untuk dihabiskan, sampai waktunya kami benar-benar lenyap.”



-Selamat datang di duniaku, wahai pengendara sepeda ala George King Barris-

Selasa, 23 Agustus 2011

cepatlah kembali, setan!


Matahari belum menampakkan keperkasaannya, embun yang sedari tadi menggenang kecil di tiap-tiap sudut jendela kaca, sadel motor yang terparkir dihalaman tak berpagar dan di tiap pasang sepatu bertali merah masih melekat dan berair. Nyanyian kecil burung gereja, sentuhan nakal nyamuk beranda dan rasa kantuk yang berani menembus pagi, membuat kudua indra pendengar saya tak sengaja mendengar tipis pertengkaran di luar sana. Entah dari mana asalnya, intinya pertengkaran tipis itu tak jauh dari tempat saya.

Beberapa lagu telah terputar di winamp, batang rokok pertama telah hampir diujung terbuang dan rasa kantuk yang berani menikmati pagi, membuat kedua indra penglihatan saya menyaksikan pertengkaran tipis tepat didepan saya. Mereka saling caci sambil memaki satu sama lain. tamparan bercampur liur berkecamuk lalu berbekas di pipi dan pelipis perempuan yang memiliki mata api. Sesekali mereka memandang saya, si lelaki yang mempunyai kepalan tangan besar menatap sinis dan si perempuan bermata api menatap dengan penuh tanya. Saya hanya terdiam, menambah volume winamp, lalu kembali membakar rokok dan anehnya, pertengkaran kecil itu makin jelas ditelinga dan makin mendekat di wajah saya.

Si lelaki dengan badan tegak dan mempunyai kepalan tangan besar itu makin bringas, kedua kakinya sudah ikut ambil bagian di wajah si perempuan bermata api lalu ia terpental beberapa meter ke sisi kiri. Monitor saya ikut bergeser ke sisi kiri.
Suara tangis pun mulai terdengar. Sedikit demi sedikit bola matanya mengeluarkan lahar sebesar jagung. Melelehkan kedua sisi hidungnya, lalu pipinya, pakaiannya dan monitor saya pun berasap. Beberapa detik kemudian, sisi hidungnya, pipinya, pakaianya dan monitor saya kembali seperti semula.

Perempuan bermata api sudah tak bergerak, terkapar disudut kiri monitor, berlumuran lahar dan berasap hitam. Si lelaki yang bringas itu pun bersandar di sisi kanan monitor dan menatap ke si perempuan bermata api, sesekali menatap keluar layar monitor.

Hening. Tak ada suara. Lagu yang saya putar dengan volume yang full-pun tak terdengar. Mungkin speaker saya sedang rusak atau apalah.

Tiba-tiba saja saya bertanya kepada lelaki bringas tersebut.

“apa yang kau lakukan pada perempuan itu?

Ia hanya menatap sinis sambil memainkan recycle bin yang ada dalam monitor. Saya pun makin penasaran dan kembali berani bertanya.

“kalian dari mana? Apa yang kalian lakukan dalam monitor saya?”

Lelaki bringas itu membalikkan badan lalu menelan recyle bin yang ada dalam monitor. Saya hanya terdiam dan tidak memindahkan arah mata saya kewajahnya. Lalu ia mendekat dan berkata.

“ia pantas mendapatkannya!”

“apa salahnya?”

“apa saya harus menjawabmu?”

“kalau kamu tidak keberatan”

Ia mengambil sesuatu dikantong bajunya, seperti kertas atau lebih mirip peta harta karung yang isinya hanya angka dan huruf yang tak beraturan.

“ini adalah data penting bangsa kami, dan perempuan sialan itu telah menelan sebagian data ini!”

Saya pun mengernyitkan dahi dan kembali bertanya.

“memangnya kalian bangsa apa?”

Lelaki bringas itu menyodorkan tangannya, seperti mengajak saya ke sesuatu tempat yang belum pernah terjamah oleh dewa ares sekali pun!

“kemana?”

“ke tempat dimana bangsa kalian bisa menjadi tuhan sekaligus setan”

Senyuman matahari sudah nampak dari luar jendela, beberapa bebek terdengar kelaparan dan ada yang sedang bersenang-senang di genangan air yang sama sekali tak dalam. Saya pun penasaran dan memberikan tangan saya kepada tangannya yang telah menunggu sedari tadi.

Dalam sekejap saya pun merasakan sesuatu yang beda, sesuatu dimana dan apapun itu bisa saya lakukan dengan mudah. Dimana identitas berubah-ubah, dari nama yang super panjang sampai tempat tinggal yang tak bertanah. Dimana pun kalian ingin hidup, di negara mana pun, di kota mana pun. Kisah romantis, sumpah serapah hingga perselingkuhan membanjiri tempat ini.

Perempuan bermata api itu pun di bawah beberapa algojo yang menyerupai “police cyber”, entah di bawah kemana. Lalu lelaki yang mempunyai kepalan tangan besar ini tiba-tiba saja menjadi tua, memakai tongkat dan berjalan bungkuk. Lalu berkata.

“baterei saya lemah”

Saya tidak mengerti apa yang ia maksud, mata saya berseliwerang kemana-mana mencari lelaki yang memiliki kepalan tangan besar itu. Dan lelaki tua itu kembali berkata.

“saya lelaki yang membawamu kesini, sebentar juga kau akan mengerti”

Dan benar. Beberapa menit kemudian, lelaki tua tersebut berubah sedikit demi sedikit seperti saat pertama saya melihatnya. Berbadan kekar dan memiliki kepalan tangan besar. Lalu ia kembali mengajak ku berjalan-jalan.

“ini adalah ‘wajah buku’ dan tempat terpopuler saat ini. Perempuan bermata api tadi mengganggu ketentraman masyarakat zynga. Ia adalah salah satu pencuri di tempat ini!”

“lalu perempuan bermata api itu dibawah kemana?”

“ia sudah di hukum permanent!”

Tiba-tiba lelaki bringas tersebut menunjuk ke arah belakang saya, dan berkata.

“itu adalah tuhan di daerah ini, ia yang menciptakan tempat ini”

“itukan mark zuckerberg?”

Lelaki bringas itu hanya melempar senyum dan kembali mengajak saya berjalan. Beberapa kali saya memperhatikan dari tempat ke tempat, dari daerah ke daerah, semuanya terasa dekat. Antara sejarah dan masa depan, antara bumi dan langit, surga dan neraka, venus dan uranus hingga bumi dan mantan planet pluto.

Akhirnya saya menemukan diri saya yang sedang tertidur pulas di salah satu kursi panjang di taman “wajah buku”. Saya mencoba membangunkannya, tapi tetap, ia tak bangun dari tidurnya. Dan lelaki bringas itu kembali berkata.

“ia tidak akan bangun, ia sedang bermimpi buruk. kebanyakan yang tidur disini, akan mengalami mimpi buruk. Lagian, tidak ada yang bisa bangun sebelum memberikan alamat pribadi beserta sandi-nya”

“apa semua seperti itu saat tertidur?”

“tidak! Tapi mereka yang menjadikan ini dunianya akan kembali dalam kurung waktu yang tidak lama. Paling lambat sejam”

“apa mereka yang seperti itu bisa terhitung?”

“butuh waktu untuk mendatanya, apa kamu bagian dari mereka?”

“kembalikan saya ketempat semula, saya ingin tidur dan bangun disiang hari untuk bertemu pacar saya yang akan berangkat ke palopo hari ini!”

Kamis, 18 Agustus 2011

Tidak Selamanya Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu




Sama dengan doa, tidak selamanya doa seorang ibu lebih manjur daripada doa-doa yang lain.

Terkadang hidup seperti lelucon para pelawak masa kini, menyedihkan dan sangat serius atau terkadang hidup lebih aneh dari fiksi sekalipun. Jika manusia bisa memilih hidupnya masing-masing, bisa dipastikan konsep surga dan neraka tidak akan efektif lagi sesuai isi al-kitab yang ada. Saya sendiri tidak begitu perduli dengan surga dan neraka!

Malam itu, dimana semuanya berubah menjadi bara api yang makin lama makin membara, tak ada hujan, hanya gemercik kesedihan melihatnya bergandeng tangan dengan seorang pemilik wajah dari balik awan mendung dimalam hari. Tak ada yang setia, semuanya begitu absurd.

Malam itu aku berteman dengan kesunyian, berselimut kesedihan, bermata marah saat melihatnya dari arah belakang. Beberapa kali aku bercinta dengan rumah dan ia bercinta dengan pemilik wajah dari balik awan mendung. Ia memilih hidup seperti binatang, meninggalkan anaknya setelah tidak menyusu lagi atau si anak sudah bisa membaca situasi dalam rumah, atau apalah namanya, intinya saya bukan anak yang kau pungut lalu di beri roti dan susu setiap pagi dan malam hingga sebesar ini dan merasa seperti alien dirumah sendiri.
Kini semuanya telah usai, kau memilih hidup seperti binatang dan aku memilih hidup seperti ini yang kau anggap, sampah, gembel, dan tak karuan. Tapi paling tidak, sampah, gembel dan tak karuan itu bisa menjagaku dan menyanyangiku lebih dari kau, yang melahirkanku!

Sekarang saya tidak akan berlutut memohon maaf di telapak kakimu yang konon katanya ada surga dibawahnya, cuihh.
Tapi tenanglah, dalam hatiku tidak ada namanya mantan ibu. Semoga kau mengerti apa yang kurasakan! :)

Aku akan pergi kedunia yang anak-anaknya lahir dari dalam akar batu, ber-ibukan pelangi, tak menyusu dan tak belajar menjadi binatang. Dimana setiap jalanan adalah surga dan teman adalah malaikat. Aku akan bahagia tanpa atap rumah yang pernah kau tawarkan dan akan senang berada diantara berandalan berambut Mohawk!

*dari seorang teman yang berjenis kelamin perempuan dengan rambut mohawknya yang berteman dengan putra angin! katanya, "ini untuk ibu yang berani melahirkan seribu bayi"

Kamis, 26 Mei 2011

malaikat melukis iblis

kuas kemarin kini kecewa dan patah dengan sendirinya. cat minyak memudar dan kehilangan partikel-partikel pigmennya sendiri. palet tak mampu lagi menampung dan mengemix warna cat minyak dengan rasa percaya diri. dan kanvas bergetar kencang, memudar seperti kehilangan darah.

malaikat itu penuh garis senyum manufaktur, bagai angin yang menghanyutkan untuk terlelap dalam mimpi indah dan dalam sekejap mampu memporak-porandakan apapun yang dilewatinya!

garis demi garis telah mewarnai kanvas yang memudar diatas easel, sekali-kali ia bersiul atau menatap dengan teliti garis yang dibuatnya. meneliti ulang dengan seksama sehingga tidak tampak oleh yang lain jika garis itu adalah garis manufaktur yang sengaja disimpan rapi dibalik kedua sayap putihnya!

warna hitam dan merah telah berpendar pada kanvas yang semakin membentuk sebuah wajah, wajah yang menyerupai mimpi buruk di siang hari. wajah yang menyeramkan saat kau membalikkan badanmu. ia sangat nyata, melebihi mimpi burukmu disiang hari!

ditangan kanannya ada kuas yang berlumuran cat minyak berwarna merah dan ditangan kirinya ada kertas bertuliskan namamu, tanda sayangnya padamu dalam waktu yang singkat.

gambar yang di inginkannya telah selesai, ia sangat senang, namamu ada di sisi kiri bawah bagian kanvas tersebut dan senyum manufakturnya makin jelas, semakin lama semakin jelas dan kini kau bagai mayat berselimut kegelisahan didalam kamar sempit yang gelap.

malaikatmu telah menjadikanmu marionette, siboneka kayu yang dimainkan oleh tali. melukis wajahmu dengan senyum manufaktur, menyimpanmu di tempat yang jauh.
malaikatmu kini telah menciptakan romantisme ilegal dengan monyet baru yang akan dilukis dikanvas dengan warna hitam dan merah. dan malaikatmu sangat senang melukis iblis!

terkadang MANUSIA MENYERUPAI MALAIKAT MELUKIS IBLIS!!!

Kamis, 19 Mei 2011

dilema gelas kaca

Bulir-demi bulir air yang jatuh dari langit membasahi lari kecilku , nafasku mengikuti irama detak jantungku, seakan-akan tidak ingin kalah pleh bulir air yang jatuh dari langit. Dengan cepat semuanya menjadi basah. Aku tidak ingin berteduh, aku bersyukur masih bisa menikmati bulir hujan ini, aku takut jika beberapa menit lagi aku tidak bisa merasakanya lagi. Maka kupuaskan diriku untuk bersenang-senang dengannya.
Lorong kecil menuju rumahku sudah tergenang air berwarna coklat sebatas mata kaki orang dewasa, ini sudah seperti kekasih hati yang dating berkunjung setelah musim kemarau.
Sudah tergambar jelas di khayalanku tentang isi rumahku, tentang air yang bertamu tanpa diundang kerumahku, tentang isi rumahku dan air yang merusak lemari bajuku yang terbuat dari sisa-sisa kardus, tentang keringat ibu yang jatuh bercampur air, tentang kedinginan yang menusuk tulang ibu, tentang kekuatan dan kesabaran ibu melawan itu semua.
Lariku semakin kenang, detak jantungku semakin cepat dan tak kuhiraukan lagi nafasku seperti apa.
Bulir hujan tak ingin kalah seperti mengikuti lariku. Cepat, semakin cepat dan makin deras.yang terlintas dibalik deras bulir hujan itu hanya baying dan wajah ibu. ibu yang tengah melawan cobaan alam dengan sendirinya setelah ditinggal pergi ayah tujuh tahun yang lalu saat saat usiaku menginjak sepuluh bulan, itu kata ibu jika sedang melihat pajangan photo ayah di potongan cermin yang sudah retak.
Aku hanya tinggal berdua dengan ibu dirumah kontrakan yang kecil dan termasuk pemukiman kumuh disudut kota. Perbualan ibu harus membayar tiga ratus ribu rupiah kepada sang pemilik rumah. Mencuci dan menyetrika pakaian dari rumah kerumah adalah cara ibu melawan hidup yang mengcekik dan ingin membunuh secara perlahan.

Sampailah aku didepan rumah yang tak berpagar, dinding dari kayu yang sudah termakan usia dan hampir mengalah melawan lumut yang dibuat air melunturkan warna aslinya.
“Kenapa pulang lebih awal, nak?”
“Dipasar lagi sunyi ibu, tapi lumayan ada dua puluh ribuan yang aku dapat ibu.”
“Bersyukurlah nak, tuhan masih saying pada kita!”
Aku hanya melempar senyum pada ibu dan segera membantu membersihkan istanaku ini.
Sesaat setelah hujan,aku menatap larik langit ada snj menjelang petang. Tidak ada pelangi, tak ada warn warni di langit lalu malam pun tiba.
Ibu tertidur sekarang, lelap tapi tak lembut, dan tak serupa rumput jepang yang di selimuti angin di antara hangat malam pekarangan depan rumah mewah yang di penuhi lampu taman.
“jangan menatapku seperti itu, nak”
“adadakah itu yang melintas di kepala ibu saat ini?”
“ibu tidak memilik kecanggihan telepati seperti itu, nak”
“mungkinkah itu yang akan ibu katakan andai iya tahu apa yang kupikirkan saat aku menatapya sekarang?”
“apakah yang tengah terjadi di dunia tidurmu ibu, bisakah aku tahu?”
Paduan suara katak dan jangkrik di malam yang penuh lelah mengantarkanku ke dunia mimpi, kedunia yang kadang membuatku seperti seorang raja yang di kagumi dan di saying oleh masyarakatnya. Tapi kadang jga membuat jantungku seperti berhenti bekerja, melihat sosok perempuan yang sangat ku idolakan menggunakan gaun putih seperti putrid dari istana langit namun tangannya tak bisa kusentuh, keningnya tak mampu ku kecup hanya melihat dia tersenyum manis mlambaikan tangan lalu hilang terbawa angin.

Pagi ini seperti biasa, ibu telah beranjak sedari tadi menuju rumah seseorang untuk melakukan apa yang menurutnya harus di lakukan apa yang menurutnya harus di lakukan agar tetap bertahan hidup. Aku pun bergegas menuju pasar menjalankan rutinitas melawan hidup, membantu orang-orang yang membutuhkan tenagaku dan tentu saja di balas dengan upah. Tenaga dan keringatku terkadang dihargai seribu perak atau jika malikat sedang memandangku lalu kasihan padaku aku bisa dapat lebih sekali mengangkat barang seseorang. Tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tujuanku, dimana aku bertukar antara tenaga dan imbalan , keringat dengan upah dan senyuman yang terbalas caci pedagang dan maki buruh pasar lainnya yan lebih besar, lebih hitam dan terlihat sangat kasar.
“danar, sini bantu aku”
Suara terdengar kecil di telinga kananku, tapi tidak asing. Satu-satunya temanku di pasar ini. Anggi gadis yang lugu dan selalu berbagi suka maupun duka, ia juga sudah tidak punya ayah dan punya seorang kakak yang lumpuh sejak lahir.

Dibawa kemana anggi?
Parkiran, ikuti ibu itu.
Bibir kecilnya yang manis menunjuk kearah seorang ibu yang berjalan didepannya.
Tak lama kemudian, tibalah kami d depan sedan mewah berwarna hitam . ibu itu menyuruh kami meletakkan di bagian belakang, setelah membukakan pintu belakang.
“ini nak, digunakan sabaik-baiknya yah”
Ibu itu memberikan kami lima lembar uang yang bergambar sulta Mahmud badaruddin II dan rumah limas.
“apa ini tidak terlalu banyak, ibu?”
Ibu itu hanya tersenyum kecil sambil mengelus rambut kami yang bau terik matahari.
“terima kasih yah nak, sudah membantu ibu”
Tetap dengan senyum kecilnya yang semakin lembut.
“iya ibu, sama-sama”
Aku dan anggi serentak menjawabnya.
Sedan mewah berwarna hitam itupun berlalu, dan kami kembali berjalan ke dalam pasar sambil cengar-cengir kegirangan kecil.
***
Hari ini pasar sungguh ramai, penuh sesak keringat dan suara lantang tentang harga barang yang murah dan terjangkau. Maklum hari libur, banyak orang-orang yang meluangkan waktunya berbelanja ini itu untuk keperluan isi dapur dan lain-lainnya.
Aku dan anggi pun sudah tak menghitung berapa orang yang telah dibantu mengangkat barang bawaanya, hingga sebagian baju kami basah oleh keringat.
Lelah, letih dan lemas sudah sering menjadi kekasih kami di sore hari, namun ini berbeda dengan hari biasanya . sungguh sangat melelahkan, kusandarkan tubuh kecilku pada tumpukan kardus berisi sampah kering dan anggi berada di sampingku melakukan hal yang sama.
Beberapa pedagang sudah membereskan dagangannya, pasar sudah tidk lagi sesak, sampah-sampah pun sudah hampir berkumpul ditempatnya, kamipun beranjak dari sandaran kardus sampah yang lumayan nyaman saat itu.
Sebentar lagi malam. Matahari digenggamannya telah ia pindahkan dari jantung langit diatas kita, ia sematkan lagi pada pojokan lain disisi langit di seberang bumi tempat kita berada.
Akhirnya pertigaan ini memisahkan kami dan kembali berjumpa esok hari dengan semangat baru yang lebih cerah.
Aku pun bergegas menuju rumahku, ingin segera bertelanjang lalu menyirami tubuh kecilku dengan air, melepas semua gerah yang melekat bersama debu dikulitku.

“ibu, aku pulang”
“ibu…!”
“ibuuu…!”
Sudah kali ketiganya teriakan kecil keluar dari tenggorokanku sambil mengetuk pintu tanpa ada balasan.
“apa ibu belum pulang?, biasanya sudah lebih dulu tiba daripada aku” gumamku dalam hati.
Cahaya rembulan telah menyinari langit malam, baju yang basah telah kering di tubuhku. Dua jam telah berlalu dan perasaan telah pekat akan keganjilan malam ini. Ibu belum pulang. Tak terasa aku tertidur lelap bersandarkan pintu rumah yang tertutup rapat dan basah terkelupas. Binatang kecil penghisap darah yang sungguh tak lucu ini seperti berpesta ditubuh kusutku dan bernyanyi riang di sekitar telingaku.

Kurasakan hangat diluar tubuhku, sepertinya angin tidak menusuk dan ingin mematahkan tulangku lagi. Binatang kecil yang tidak lucu itu berhenti berpesta dan bernyanyi disekitar telingaku. Berselimut kusam didalam kelambu kusut, hangat peluk ibu menyadarkanku dari kelelahan.
Pagi kembali terulang seperti kemarin, ibu sudah beranjak sedarai tadi dan aku sudah berada diantara kerumunan manusia bersama teman baikku.
Ada yang aneh, kerumunan manusia ini berlarian seperti ada sesuatu yang telah terjadi. Hawa panas semakin terasa, hampir semuanya pucat, wajah tak berdarah. Ternyata benar, sebelum matahari memperlihatkan dirinya, pasar ini sebagian telah menjadi abu dan sebagian lagi masih berpelukan mesra dengan si jago merah. Tak tahu apa penyebab pastinya hingga setiap sudut pasar ini hampir rata dengan tanah. Setelah 13 jam kemudian si jago merah telah puas berpesta, pasar telah rata, setiap sudut menjadi abu, hawa panas dimana-mana.
Tapi itu sekitar 20 tahun yang lalu. Jauh sebelum ibu meninggal akibat terjatuh dari tangga rumah dimana ia bekerja. Sekarang aku berdiri tepat dimakam anggi, gadis yang selalu membuatku tertawa, bahagia dan senang. Gadis yang kuimpikan ingin kunikahi setelah berpacaran selama 5 tahun. Tapi sayang ia pergi mendahuluiku setelah tertabrak sedan hitam yang dikendarai oleh seseorang yang melaju terburu-buru dan melarikan diri tanpa jejak. Seperti tertelan gelap malam. Aku masih berdiri dan meratap nisan dengan namamu, kenapa ada meteor meluncur cepat menghancurkan hatiku? Membuncahkan sedih dan lara tak terhingga yang membuatku merasa kosong berkepanjangan. Benarkah itu Cuma dampak dari rasa bersalah? Ataukah memang aku merasa.
Kini aku tahu bagaimana rasanya kesepian dan hampir mati. Karena tak seorangpun yang memahamiku bahkan diriku sendiri. “aku sangat rindu padamu. Aku sangat menginginkan tubuhmu”. Ucapku didepan bingkai photo kita.